Penderitaan Batin Dewi Kunti

by singalodaya

Cerita tentang kehadiran dua raksasa sakti di Astina pura dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok daerah, bahkan sampai keluar kerajaan Astina Pura. Berita itu lambat laun terdengar juga di Bumi Indraprasta hingga ke Istana kerajaan kecil yang dihuni oleh Pandawa….Berita itu dengan cepat menjadi pembicaraan hangat diantara semua prajurit, perwira, senopati, dan semua raja atau pangeran yang saat ini berpihak kepada Pendawa. Tampak kekhawatiran dimana-mana, harapan yang semula cukup besar untuk menang apabila terjadi peperangan dengan Kurawa kini mulai menipis, setiap orang menceritakan dengan rasa takut, terutama cerita bagaimana Kalanjaya mengalahkan Kurawa hanya dengan sebuah tiupan angin. Pastilah itu belum semua kesaktian yang dimiliki oleh keduanya.

Semua orang saat ini sedang bingung megatasi masalah ini, belum perang sudah merasa kalah…

Dewi Kunti tahu akan kehadiran Kalanjaya dan Kalantaka menjadi resah
Berita besar itu tidak luput dari telinga Dewi Kunti, Ibu para Pandawa, hal itu membuatnya risau… ia sebagai seorang ibu selalu menginginkan agar semua anaknya dapat hidup mulia dan sejahtera… setelah sekian lama hidup di hutan Amarta sudah bulatlah tekadnya untuk meminta dan mengambil hak anak-anaknya atas negeri Astina pura yang seharusnya adalah milik Pandawa, sesuai dengan janji Dastarata yang akan memberika tahta kepada Yudistira anaknya apabila ia telah dewasa nantinya…. Apabila dengan cara halus tidak berhasil, dan ia yakin Prabu Suyudana sepupu anak-anaknya itu tidak akan memberikan sedikitpun wilayah kerajaan Astina kepada Pandawa apabila diminta dengan cara halus, maka mau tidak mau harus dengan cara kasar. Namun hal itu berarti akan terjadi peperangan yang sangat hebat mengingat jumlah Kurawa amat banyak dan pembela di pihaknya juga tidak sedikit, sementara dari Pihak Pendawa walaupun ia yakin anak-anaknya cukup kuat untuk melawan akan tetapi apabila jumlahnya kalah besar dan kalah kuat akan sama saja dengan bunuh diri.

“Apa yang harus diperbuat sekarang…. Suyudana pasti tidak akan menyerahkan kembali tahta atau wilayahnya kepada anakku Yudistira, kecuali bila mereka semua sudah dikalahkan dan ditaklukkan dalam peperangan…..! Renung Dewi Kunti dalam hati. “Sedangkan kini …mereka …para Kurawa itu sudah mendapatkan andalan baru yang kabarnya begitu hebat….. Mungkinkah putra-putraku akan sanggup menghadapi mereka? … Bila para Kurawa itu dibantu oleh dua raksasa sakti itu?

Sebagai seorang ibu yang ingin melihat putera-puteranya bahagia… hal itu tentu membuat Dewi Kunti menjadi risau dan sedih hati, apalagi berita itu bukannya menghilang melainkan makin banyak saja orang yang menceritakan kesaktian demi kesaktian baru yang ditunjukkan oleh dua orang raksasa itu.

Dewi Kunti menjadi semakin risau manakala melihat putra-putranya itu begitu tenang-tenang saja seolah tidak tahu bahaya besar yang akan mengancam jiwa mereka kelak pada saat pertempuran besar akan terjadi antara Pandawa dan Kurawa. Hal itu amat mecemaskan Dewi Kunti.

Mereka itu Yudistira, Bima, Arjuna, dan si kembar Nakula dan Sadewa anak si Madrim yang mulai beranjak dewasa begitu sabar dan bijaksana menghadapi segala persoalan yang menimpa kerajaan Indraprasta. Sejauh ini pemerintahan kerajaan Indraprasta telah berjalan dengan sangat baik. Sehari-harinya mereka mengisi dengan melatih diri baik olah kanuragan, olah ketatanegaraan dan olah batin. Tidak ada satu haripun dimana tidak ada kemajuan sama sekali, kecuali hanya apabila mereka sakit, atau ingin beristirahat dengan keluarga mereka masing-masing. Hanya Nakula dan Sadewa yang belum berkeluarga karena mereka masih remaja.

Yang nampak paling menonjol adalah Bima dalam hal olah kedigjayaan atau olah kanuragan, disusul oleh Arjuna yang juga sangat rajin berlatih. Kegemarannya menggunakan senjata panah sekarang sudah menjadi keahlian yang tanpa tanding di negeri Indraprasta, Arjuna selalu didampingi oleh istrinya Srikandi untuk berlatih memanah sasaran sasaran bergerak, acap kali mereka pergi berdua ketengah hutan dan memanah kijang berdua. Bima dan Arjuna seperti tiada lelahnya melatih diri. Sebenarnya hal itu cukup melegakan hati Dewi Kunti, namun sikap mereka yang tidak memperhatikan perkembangan lawannya membuat hati Dewi Kunti was-was, bagaimana mungkin bisa mengalahkan lawan apabila tidak mempelajari kekuatan lawannya. Jadi sekarang nampaklah bahwa mereka melatih diri bukan dalam rangka mempersiapkan perang besar yang akan mereka hadapi akan tetapi lebih karena mereka ingin menjaga kesehatan dan meningkatkan kemampuan mereka sendiri atau untuk kerajaan Indraprasta, tanpa maksud untuk mempersiapkan diri untuk kelak menghadapi kaum Kurawa yang membenci mereka seperti apa yang diharapkan oleh Dewi Kunti.

Yudistira anaknya yang sulung tidak begitu tertarik untuk olah kanuragan dan melatih kedigdayaan, melainkan bersama dengan istrinya Drupadi sangat rajin mempelajari isi kitab Wedatama, atau kadang malah bersemadi berjam-jam ber hari-hari mengheningkan cipta. Dan istrinya Drupadi itu amatlah sabar, melihat suaminya yang tekun melatih batin, tidak sedikitpun ada rasa penyesalan mempunyai suami yang tekun berdoa dan bersemadi, malahan dia mendukung perbuatan suaminya itu. Hanya sesekali Yudistira ikut bergabung dalam olah kanuragan dengan Bima dan Arjuna, untuk sedikit menyegarkan badannya agar tidak terlampau lemah. Kadang bahkan apabila Yudistira berolah tanding dengan Gatotkaca, cucunya, anak si Bima dan Arimbi itu Yudistira tampak kuwalahan. Memang terlihat betapa kuatnya si Gatotkaca itu, walaupun masih anak-anak.

Dewi Kunti jadi teringat saat Gatotkaca kecil lahir dan tumbuh sebagai anak-anak di Hutan Amarta. Cucunya itu kuat sekali, rosa se rosa ayahnya Bima. Pinten dan Tangsen atau Nakula dan Sadewa yang turut mengemong kadang kuwalahan dengan tingkah lakun si Gatotkaca kecil itu… mengingat hal itu Dewi Kunti tersenyum sendiri.

Sesaat pandangan Dewi Kunti melihat ke arah dua saudara kembar Nakula dan Sadewa, anak suaminya Pandudewanata dengan Dewi Madrim … dia telah berjanji kepada Dewi Madrim sebelum Suaminya dan Dewi Madrim meninggalkan dunia untuk merawat si bayi kembar …iapun terkenang saat saat pertama kali ia bertemu dengan Pandu Dewanata untuk pertama kalinya .. dimana saat itu ia sedang menggendong anaknya yang pertama Adipati Karna yang dilahirkannya dari lobang telinganya…. Ahhh…. masa masa itu tidak akan kembali.

Nakula dan Sadewa juga lebih senang ikut mendalami pelajaran-pelajaran Weda, bersama kakak sulungnya Yudistira. Mereka tidak pernah terpancing amarah dan tidak ambil pusing dengan kebencian yang meluap-luap dari kaum Kurawa kepada Pandawa. Kadang mereka berdua tidak mengerti mengapa Kurawa ingin sekali menghancurkan mereka… apa sebenarnya yang mereka inginkan?

Dewi Kunti telah mencoba mengingatkan mereka akan ancaman bahaya besar yang datang dari pihak Kurawa dengan hadirnya dua raksasa sakti itu. Hampir disetiap kesempatan ia mengingatkan kepada Yudistira, Bima atau Arjuna yang telah cukup dewasa agar memperhitungkan hal itu kelak dan memikirkan bagaimana cara untuk mengatasinya.

Setiap selesai makan, selesai berlatih kanuragan, atau bepergian bersama mereka ia selalu mengingatkan hal itu, bahkan melalui istri-istri mereka, Dewi Drupadi, Dewi Arimbi dan Dewi Srikandi ia menitipkan pesan kepada mereka agar mereka menyampaikan pada suami masing-masing akan besarnya Marabahaya yang tengah mengintai keselamata jiwa mereka dari pihak Kurawa itu. Namun jawaban akhir dari para Pandawa sungguh diluar dugaan Dewi Kunti.

“Biarkan sajalah ibu, ibu tidak usah terlalu mencemaskan hal itu. Hyang Widi Wasa tentu lebih awas dan tahu, apa yang akan terjadi kelak dan apa yang akan kita hadapi … apabila kita akan mengalami kehancuran seperti itu..ya kita harus terima hal itu dengan lapang dada…Namun apabila Dewa berkehendak lain, pastilah akan ada jalan keluarnya..atau kita pasti akan mendapatkan petunjuk.petunjuk dari Dewa … seperti misalnya saat kakang Yudistira mendapat petunjuk agar kakang Bratasena dapat mengalahkan Jagabilawa… atau Kakang Bratasena mendapat petunjuk untuk mengikuti binatang Garangan putih sehingga kita semua selamat dari kebakaran…bukankah begitu ibu? Demikian anaknya yang ketiga si Arjuna berusaha menenangkan ibunya.

“Yang benar akan mendapatkan perlindungan, sedang yang salah pasti akan menerima akibat dari perbuatannya sendiri…” Begitu Yudistira menimpali.

“Ya tapi anak-anakku tidak ada salahnya untuk menyusun kekuatan berjaga-jaga kalau kekuatan itu benar-benar datang menyerang kita oleh karenanya mulailah sejak saat ini meminta petunjuk dari Dewa bagaimana mengatasi kedua Raksasa itu…dan ada baikknya kalau kita menghubungi para raja dan pangeran yang berada dipihak kita agar dapat bersiap-siap membantu apabila kedua raksasa itu menyerang kita…”

Para putera Pandawa itu memang terkenal sangat sabar dan suka mengalah..mereka hanya menimpali kalimat ibunya yang terakhir itu dengan senyuman… yang artinya mereka tidak terlalu khawatir dengan keadaan yang menurut Dewi Kunti sudah amat genting itu”

Mereka teramat sabar dan suka mengalah terutama Yudistira anaknya yang menjadi raja di Indraprasta ini banyak yang mengatakan kalau ia adalah seorang Ksatria yang berdarah putih, karena hatinya begitu bersih dan putih… tidak pernah berdusta sekalipun dalam hidupnya, penuh kebajikan, tidak pernah mendengki dan tidak pernah mendendam, mereka para Pandawa itu sepertinya sudah sepakat bahwa mereka tidak akan pernah memaksa apalagi merebut hak hak seseorang atau hak mereka sendiri, tidak akan mau memulai serangan, atau peperangan… begitu kuatnya mereka memegang prinsip-prinsip itu sehingga Dewi Kunti seolah telah kehilangan akal…sia-sialah segala daya upayanya selama ini untuk mengingatkan mereka..

Dewi Kunti bertapa meminta petunjuk demi keselamatan anak-anaknya
Namun Dewi Kunti tidak berputus asa..dia memang pantang berputus asa… sejak masa mudanya dia memang seorang wanita yang sangat tangguh..dia mulai mencari jalan lain untuk mengatasi hal ini. Semuanya ini adalah demi anak-anak yang dicintainya, membuka jalan kebahagiaan bagi putera-puteranya itu.

Begitu kerasnya Dewi Kunti berpikir hingga kemudian ia teringat bahwa di masa muda ia juga sering bertirakat dan bersemadi untuk memohon petunjuk kepada Dewa apabila ia menghadapi masalah. Mengapa ia sampai melupakan hal itu?

Kemudian sejak saat itu mulailah Dewi Kunti melakukan tirakat dengan mengurangi makan dan mengurangi tidur. Waktunya kini lebih banyak habis untuk bersemadi, berpuja samadi kepada Dewa agar Dewa bermurah hati memberikan petunjuk untuk mengatasi masalah besar ini.

Para Pandawa terutama Prabu Yudistira, Nakula dan Sadewa menjadi terheran heran melihat ibu mereka tiba-tiba sangat rajin bersemadi…bahkan kekusukan mereka tampak kalah dengan kekusukan samadi ibu mereka…

Sungguh mengagumkan tekad dan keinginan Dewi Kunti demi kebahagiaan anak-anaknya ia rela menahan lapar dan dahaga, ia tabah menjalani segala gangguan, mulai dari nyamuk yang menggigitinya…hawa dingin yang menusuk tulang..rasa lapar…rasa kantuk…bahkan kadang timbul juga keinginan aneh untuk mati saja saat itu….namun kekuatan batin Dewi Kunti memang telah teruji ia dapat mengatasai semua godaan raga dan godaan jiwa yang mengganggu kekusukan tapa-samadinya ..

Berbulan-bulan hal itu terus dilakukannya tirakat dan tapa.. kini badannya jauh lebih kurus dari sebelumnya.. wajahnya nampak guratan-guratan lelah..juga matanya tampak sangat lelah dan memprihatinkan karena jarang tidur…Namun Dewi Kunti tetap saja terus tekun karena petunjuk yang diharapkannya belum juga turun… bahkan belum ada satu Dewapun yang menyapanya dalam samadinya…
ia tak mau menghentikannya sebelum apa yang diinginkannya itu tercapai…atau tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahannya duduk bersila…

Ia terus melakukan hal itu, memohon dan memohon petunjuk kepada Hyang Widi Wasa agar supaya putera-puteranya kelak akan bisa mempertahankan diri dan memperoleh kemenangan dalam perang dan mendapatkan apa yang telah menjadi haknya….serta memohon agar para Dewa melindungi Pandawa dari kematian yang belum saatnya…

Begitu tekunnya Dewi Kunti bertapa… sehingga Sang Hyang Batara Narada yang mengamatinya bertapa dengan sangat kuat turun dari Kahyangan dan menemui dan membangunkan Dewi Kunti…isteri mendiang PrabuDewanata dari tapanya…

“Ohhh Lhadalah …bangunlah dari tapamu itu Dewi Kunti Cucuku..” Sabda Hyang Batara Narada setelah ia hadir didepan Dewi Kunti…

Mendengar ada suara agung itu Dewi Kunti membuka matanya… demi dilihatnya Dewa Sang Hyang Batara Narada …dia tersenyum .. tiap kali keluarga Pandawa mendapat masalah Sang Hyang Batara Narada selalu hadir… Dewi Kunti teringat saat mendapat masalah dengan Kulit pembungkus bayi Bima tidak mau dibuka.. Dewa Narada membantunya… juga pada saat Pandawa akan ditumpas Kurawa dalam kobaran api…. Dewa Hyang Batara Narada memberi petunjuk kepada Bima dalam bentuk binatang Garangan Putih yang menyelamatkan mereka..

Dewi Kunti lalu bersimpuh, bersujud dan menghaturkan sembah kepada Sang Hyang Batara Narada dan berkata “…Duh Eyang Pikulun, hamba menghaturkan sembah bakti kehadapan Eyang Pikulun”

“Hmmmm …ya kuterima sembah bhaktimu cucuku” Jawab Batara Narada. “Sekarang katakan apa yang menjadi keinginanmu ngger sehingga engkau bertapa sekian lamanya ?”

“Hamba rasa Eyang Pikulun tentu lebih awas tentang apa yang tengah terjadi saat ini..” Ujar Dewi Kunti sambil tetap menyembah dengan penuh hormatnya.

Sang Hyang Batara Narada manggut-manggut memahami isi hati Dewi Kunti yang mengkhawatirkan kehadiran Citrasena dan Citranggada yang berwujud sebagai raksasa yang memihak pada Kurawa.., juga terlintas dalam benak Batara Narada kejadian turunya Betari Uma ke Marcapada…

“Ohhh Lhadalah ..namun tiada salahnya bila engkau kemukakan apa yang menjadi kehendakmu itu cucuku agar Eyang akan lebih jelas memahami dan mengetahuinya” kata Sang Hyang Batara Narada dengan bijaksana. Ia sudah tahu bagaimana penyelesaiannya namun ia memberi kebebasan kepada semua mahluk untuk memilih jalannya sendiri sesuai dengan akal budi yang telah ada pada setiap manusia.

“Baiklah, Eyang pikulun, bila memang Eyang menghendaki hamba untuk mengatakan apa yang membuat hati hamba bersedih selama ini sehingga hamba sengaja melakukan tapa ini adalah untuk memohon petunjuk dari Eyang Pikulun”

“Ya ya ya… katakanlah segala yang engkau inginkan Cucuku…”

“Sebenarnya hamba merasa sangat cemas, oleh kemunculan Kalanjaya dan Kalantaka di Astinapura, yang menurut pendapat hamba akan menambah kekuatan di pihak Kurawa dan menjadi ancaman di pihak Pandawa Eyang Pikulun…” Tutur Dewi Kunti dengan lancar..

“Ya.. terus apa yang engkau inginkan cucuku? ”

“Hamba ingin agar diberi petunjuk bagaimana caranya mengalahkan kedua raksasa itu.. agar mereka tidak menumpas putera-putera hamba Pandawa lima” sahut Dewi Kunti yang merasa lega setelah keinginannya disampaikan kepada Dewa Batara Narada.

Sang Hyang Batara Narada yang menyadari bahwa akal budi manusia kadang tidak sampai pada hal-hal yang lebih tinggi memaklumi Dewi Kunti yang sudah tidak dapat lagi menemukan jalan penyelesaian dan datang kepada Dewa… Hal itu memang seharusnya begitu sehingga tidak boleh ada seorangpun manusia di Marcapada yang merasa paling pandai, paling pintar, paling berkuasa, paling tahu segala sesuatu.., sehingga seolah tidak memerlukan pertolongan dari yang lebih tinggi.

” Hmmmmm jadi itulah yang menjadi keinginanmu…dan menyebabkan engkau tekun bertapa …”

“Benar Eyang Pikulun …hamba rasa tidak ada seorang ibupun di dunia ini yang tidak menghendaki agar putera-puterinya hidup bahagia di dunia ini. Demikian pula halnya hamba Eyang Pikulun…hamba sungguh merasa cemas, tidak bisa tenteram semenjak mendengar berita kehadiran dua raksasa sakti yang jelas berpihak pada Kurawa itu dan hendak menghancurkan anak-anak hamba Pandawa….”

Sesaat kemudian Sang Hyang Batara Narada memejamkan mata dan menghubungi SANGHYANG TUNGGAL, DEWA YANG MAHA TAHU dan MAHA KUASA. untuk memohon ijin memberi tahu beberapa hal. Kemudian dia manggut-manggut lagi pada saat matanya masih terpejam ia memahami bahwa tidak semua rahasia hidup Dewi Kunti boleh tahu, maka ia akan mengarahkan Dewi Kunti kepada penyelesaian masalahnya tanpa harus tahu rahasia para Dewa sebelum saatnya tiba.

Dewi Kunti diberi petunjuk untuk meminta bantuan Ra Nini
Sang Hyang Batara Narada yang tahu bahwa Kalanjaya dan Kalantaka memang bukan raksasa biasa tetapi adalah dua Bidadara yang dikutuk oleh Batara Guru karena perbuatan mereka hanya tersenyum dan tidak menjelaskan kepada Dewi Kunti tentang siapa sebenarnya kedua raksasa sakti itu. Sang Hyang Batara Narada hanya bersabda untuk sekedar memberi petunjuk yang mengarah kepada penyelesaian masalah Dewi Kunti:

“Pergilah engkau ke Setra Gandamayu ”

Setelah berkata begitu Sang Hyang Batara Narada tiba-tiba lenyap dari pandangan Dewi Kunti. Dewi Kunti menghaturkan sembah walaupun Sang Hyang Batara Narada sudah tidak nampak dan ia mengucapkan terima kasih.

Walaupun petunjuknya sangat singkat…namun Dewi Kunti sudah merasa puas… memang begitulah para Dewa akan memberi petunjuk yang sangat singkat yang seringkali harus dilakukan dengan berbagai penderitaan dan pengorbanan hingga akhirnya berbuah keberhasilan sesuai keinginan yang dicita-citakan.

“Siapa gerangan yang tinggal disana… sehingga aku harus menuju Setra Gandamayu… seingatnya hutan itu adalah tempat para dedemit jim dan setan gentayangan tinggal…sehingga jarang ada manusia mau melintasinya…… namun apapun akan aku lakukan demi anak-anakku…sudah selayaknya seorang ibu berkorban seumur hidupnya kepada anak-anaknya… aku tidak boleh membuang waktu… sebelum kedua raksasa itu menyerang aku sudah harus mendapatkan bantuan…aku harus kesana secepatnya…”

***

Kepada anak-anaknya Dewi Kunti berpamitan akan pergi ke suatu tempat yang mereka belum boleh tahu. Para Pandawa menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya bahwa sekuat itu ibunya ingin melindungi mereka, dan sekhawatir itu ibunya kepada mereka.. namun mereka tidak dapat mencegah kepergian ibunya yang saat ini sebenarnya telah beranjak tua…..mendadak mereka semua merasa berdosa kepada ibu mereka karena selama ini mereka tidak mendengarkan apa yang menjadi kekhawatiran ibu mereka sehingga ibu mereka kini bertekad pergi seorang diri ke suatu tempat yang mereka sendiri tidak tahu..

Nakula dan Sadewa menawarkan diri untuk mengantarkan ibu mereka namun ditolak dengan halus oleh Dewi Kunti.. dia sendiripun belum tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanannya nanti…jangan sampai membahayakan jiwa anak-anaknya…

Dewi Kunti pergi ke Setra Gandamayu untuk bertemu dengan Dewi Uma
Setelah berjalan berhari-hari melewati siang dan malam dengan kekuatan raga yang sudah mulai menurun, diserang rasa haus, lapar, kantuk dan sebagainya perjalanan ke Sentra Gandamayu terasa sangat melelahkan dan penuh penderitaan. Namun Dewi Kunti sungguh seorang yang sangat kuat pendiriannya sehingga semua halangan itu dapat diatasinya. Tidak henti-hentinya ia memohon kepada dewa agar dibantu selama perjalanannya dan memang walaupun keadaan sangat sulit, ada saja orang yang membantu dengan memberi makan, minum atau sekedar tempat untuk berhenti beristirahat.. bahkan ada yang menemani masuk kedalam hutan.. sembari ia mencari hasil hutan, buah, kayu bakar, damar dan sebagainya.

Bagi Dewi Kunti hutan adalah bukan hal yang baru… sudah sekian lama ia dan anak-anaknya pernah tinggal dalam hutan Amarta.. sehingga dia dapat menyesuaikan diri dengan cepat… tahu mana buah yang dapat dimakan dan mana yang tidak dapat.. bagaimana membuat api dengan lebih baik dan sebagainya.

Hingga hari ke empat puluh dia bisa bertahan hidup terlunta-lunta masuk hutan keluar hutan.. hingga akhirnya ia merasa bahwa hutan Setra Gandamayu telah dekat sesuai dengan keterangan yang dihimpunnya dari para penduduk yang ditemuinya yang menjelaskan letak Hutan Setra Gandamayu dengan bergidik karena takut.

Kini sampailah ia dipinggir hutan Setra Gandamayu yang terkenal sangat angker itu. Memang betul betul menyeramkan karena tidak ditemuinya seorang pun yang mencari kayu bakar atau berburu atau mencari hasil hutan atau buah-buahan. Suasananya begitu sepi..sunyi dan gelap karena kerimbunan pohon-pohon yang sangat besar dan lebat…..Dewi Kunti meneguhkan hatinya… dia harus tetap pada pendiriannya dan tidak boleh mundur pulang karena takut..semua adalah demi anak-anaknya…kalau ia pulang tanpa hasil maka sia-sialah apa yang telah dia kerjakan selama ini dan semua pengorbanan yang dia lakukan hingga saat ini.

Dewi Kunti meneruskan langkahnya dan menjejakan kakinya sambil mengusir rasa takut yang menyergapnya. Hutan ini telah lama terkenal angker dan menakutkan tidak ada yang berani mendekati apalagi masuk ke dalamnya seperti dia. Hanya mereka yang mempunyai nyali sekuat macan yang mempunyai hati yang teguh dan kuat iman keberaniannya … yang mempunyai tekad baja untuk memperoleh sesuatu misalnya ilmu kesaktian atau pusaka-pusaka ampuh…tekad yang sama itulah yang dimiliki oleh Dewi Kunti yang berjalan terus merangsek ke dalam.

Konon semenjak hutan ini dihuni oleh Ra Nini dan Ni Kalika hutan ini menjadi semakin angker. Sebelum kehadiran mereka hutan ini dihuni oleh Dedemit, roh-roh penasaran, Setan marakhyangan, jim, iblis dan sebagainya semua roh jahat berkumpul di hutan itu… seolah-olah menunjukkan kepada semua mahluk lain bahwa disanalah letak kerajaan jim dan dedemit. Pada saat kedatangan Ra Nini dan Ni Kalika para jim dedemit dan iblis itu sadar bahwa mereka kalah sakti dengan kedua Raksasi itu maka mereka semua berkumpul dan bersimpuh memohon menjadi abdi atau bala tentara sang Ratu Raksasi dan mereka menobatkan Ra Nini menjadi Ratu di kerajaan para lelembut, roh jahat, hantu dan sebagainya itu.

Siapa saja yang berani mendekat kepada hutan itu dan wilayah mereka pasti akan mereka ganggu sehingga orang itu menjadi takut dan meninggalkan hutan itu. Ya siapa saja yang berani menginjakkan kaki disana harus diusir, diganggu, ditakuti. Konon menurut para penduduk ada yang melihat paha manusia yang berjalan sendiri, tangan manusia yang melayang-layang menjangkau orang yang berani mendekat, bahkan sepasang mata berdarah yang melotot dan bisa terbang mengejar mangsanya….kadang ada kepala manusia lengkap dengan rambut gimbalnya yang bersuara menyeramkan…masih banyak lagi bentuk-bentuk yang menyeramkan… rata-rata sangat aneh dan menakutkan apalagi bagi orang yang nyalinya kecil….baru mendengar desah nafas dan ringkikan suara suara aneh itu yang kadang tanpa ujud saja akan membuat pingsan orang yang ketakutan atau lari terbirit-birit dan terkencing-kencing.

Gangguan-gangguannyapun bermacam-macam caranya. Ada roh yang merubah dirinya menjadi sebuah buah yang ranum dan matang untuk dipetik dan menerbitkan selera, namun begitu dipetik dan hendak dimakan mendadak berubah menjadi kepala bayi yang kecil dengan suara tangisan bayi yang menyayat hati.

orang yang memegangnya pastilah melemparkannya kemudian merasa kasihan dengan kepala bayi itu yang walaupun hanya kepala namun bisa menangis dan matanya yang baru bisa melihat terlihat lucu dan menimbulkan iba. Namun karena rasa iba itu apabila kepala bayi itu diambil lagi tiba-tiba akan berubah kulit kepalanya menjadi hancur dan matanya tiba-tiba melotot menyeramkan siapapun yang melihatnya. bahkan mulutnya yang kecil itu tiba-tiba berubah sangat besar dan kini malah memangsa orang yang tadinya ingin memakan buah itu.

Masih banyak cerita-cerita menyeramkan dan membuat bulu kuduk berdiri dari hutan Setra Gandamayu dan itu membuat hutan itu terkenal sebagai tempat kerajaan setan yang sangat ditakuti oleh penduduk.

Hal itu berlangsung bertahun-tahun dan sudah hampir sepuluh tahun semenjak kehadiran Ra Nini dan Ni Kalika hutan itu hampir tidak pernah tersentuh oleh manusia. Selama ini semua hantu itu tidak tahu bahwa Ra Nini sebenarnya adalah seorang Dewi, Betari Uma isteri seorang Dewa berkedudukan tinggi Batara Guru yang sedang menjalani hukuman. Yang mereka tahu Ra Nini adalah seorang raksasi yang sangat sakti yang tidak boleh diremehkan atau diabaikan segala sabdanya atau permintaannya. Konon bila Ra Nini sedang senang hatinya akan mengabulkan permintaan roh-roh yang meminta sesuatu kepadanya.

Kini telah hampir dua belas tahun semenjak turunya Ra Nini di hutan sentra Gandamayu, Ra Nini sebenarnya merasa sangat tersiksa hidup sebagai raksasi ditengah hutan dengan makan apa saja yang dicarikan oleh Ni Kalika untuknya. Ni Kalika selalu setia mendampingi dan menghiburnya … sehingga hari-hari yang membuat sengsara hidupnya itu hampir dilaluinya… kini dengan harap-harap cemas ia menunggu hari-hari pembebasannya…. kapankah datang Putera Pandawa yang bungsu itu…yang dijanjikan oleh suaminya Batara Guru dapat membebaskannya dari kutukan yang menyiksa ini….

Terkadang Ra Nini lupa dengan kutukannya dan bahwa ia sedang menjalani hukuman, ia kadang telah merasa terbiasa hidup sebagai raksasi dan ratu para dedemit di hutan dan ia menikmati saja diperlakukan menjadi Ratu raksasi yang sangat ditakuti dan diagung-agungkan oleh para pemujanya.

Dewi Kuntipun pernah mendengar tentang keangkeran hutan Setra Gandamayu namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Tekadnya bulat… karena ia diberi petunjuk harus pergi ke Setra Gandamayu.. maka ia harus pergi ke hutan ini dan itu berarti harus bertemu siapa yang berkuasa di hutan ini, kemudian menyampaikan masalahnya kepadanya.. kecuali Dewa berkehendak lain.

Dewi Kunti terus berjalan memasuki hutan belantara yang sangat lebat, gelap karena tertutup oleh rimbunnya daun-daun pohon yang sangat besar-besar dan tua. Semak belukar yang berduri telah membuat kulit tuanya lecet-lecet… begitu menyengsarakan perjalanan seorang diri ini… dalam kelelahannya terbayang bayang wajah suaminya Pandu Dewanata yang tengeng… wajah anak-anaknya satu persatu melintas Puntadewa.. Bratasena…Permadi…dan sikembar anak Madrim Nakula dan Sadewa…yang kini telah ia anggap anaknya sendiri….

Karena kelelahan Dewi Kunti terjatuh ke bawah pohon diantara akar-akar yang besar….. saat itulah para dedemit yang sejak tadi mengamati dengan keheranan karena keberanian Dewi Kunti masuk kedalam hutan mulai beraksi…

Ada yang menggoyang-goyang kaki Dewi Kunti … ada yang mengusap-usap wajah nya, ada yang menarik-narik rambutnya….ada yang menampakan muka seram yang meneteskan liur tiada habisnya…ada yang menampakan wujud seperti wanita cantik dengan tubuh telanjang dengan kuku panjang dalam posisi mengangkang… entah apa maksudnya…ada juga yang menampakkan diri seperti Dewi Madrim dengan muka yang pencemburu dan menghina dan mengejeknya… ada yang seperti seorang kakek tua dengan wajah menyeramkan … ada yang seperti mahluk kecil dengan tangan terlalu panjang dengan mata bulat melotot menakutkan.. ada yang menampakkan kepala tanpa rambut.. tanpa alis… tanpa bulu sedikitpun ditubuhnya yang gendut… tapi hidungnya pesek sekali hampir tidak ada tulang hidungnya dan hanya lobang hidung dan mulut tanpa gigi….

Semua jim dedemit itu menakuti seseram-seramnya… namun Dewi Kunti segera bersemadi dan menenangkan batinnya… diusirnya semua suara – suara itu..suara-suara yang mengejeknya… membentaknya… mengusirnya… menakutinya… apa yang terlintas oleh penglihatan matanya berusaha untuk dilupakan….

Ada juga yang berupa ular sangat besar menakutkan dan menggelikan dengan mata merah dan lidah bercabang dua hendak melilit tubuhnya dan meremukkan tulangnya… Dewi Kunti segera menusuk ular itu dengan keris kecilnya dan mengucapkan mantra… ular itupun segera meluncur pergi ketakutan..

Dalam samadinya Dewi Kunti sadar bahwa ia harus segera bertemu pemimpin mereka dan mengungkapkan maksudnya…maka ditangkapnya salah seorang dedemit yang menyerupai wanita cantik bertelanjang tubuh itu dengan mantera yang pernah dipelajari dedemit itu berhasil dipegangnya dan diancamnya akan dimasukkan kedalam cupu apabila tidak mengikuti keinginannya agar ditunjukkan dan diantarkan kepada pemimpin mereka.

Keinginannya untuk segera bertemu dan memohon bantuan kepada pemimpin mereka membuat dirinya begitu gagah berani Tak secuilpun rasa takut yang menghinggapi dirinya, yang menggetarkan hatinya, apalagi menggoyahkan kemantapan hatinya. Terlebih bila terpikir olehnya, akan nasib anak-anaknya apabila ancaman itu benar-benar terjadi, semua ini adalah demi untuk membahagiakan anak-anaknya, kebahagiaan putera-puteranya. Dan dengan kepercayaan penuh atas petunjuk Hyang Narada pasti akan dijamin keselamatannya sebelum penyelesaian itu diperolehnya.

Begitulah Dewi Kunti dengan mencengkeram salah satu roh jahat yang berbentuk perempuan itu melangkah menuju arah yang ditunjukkan oleh roh itu setelah dia diancam akan dimasukkan kedalam cupu apabila tidak mau memberi tahu. Roh-roh lain yang begitu tahu bahwa Perempuan tua itu mempunyai ilmu dan mantra yang bisa menangkap roh, segera bubar ketakutan.

Setelah beberapa jam sampailah mereka pada sebuah tempat yang agak lapang dan agak terbuka tidak selebat pohon-pohon di tengah hutan Setra Gandamayu, memang masih dalam wilayah hutan itu namun sudah nampak seperti daerah yang “ditempati orang”.

Hati Dewi Kunti berdegup kencang demi dilihatnya seorang raksasi, diakah pemimpin mereka? Dewi Kunti melihat kearah roh jahat yang sedang dicengkeramnya .. namun roh itu diam saja sambil menunjuk nunjuk ke arah raksasi itu. Dewi Kunti kemudian melepaskan cengkeramannya dan roh itu dibiarkan pergi. Dengan Perlahan didekatinya Raksasi yang sedang nampak seperti “menanam” sesuatu itu… setelah jarak sudah cukup dekat..Dewi Kunti memberi salam

” Ampun Danawa… mohon perkenankan hamba untuk bertanya …”

Raksasi yang sedang merawat kebunnya itu kaget setengah mati… hingga sepuluh tahun lebih ia tinggal di hutan ini belum pernah didengarnya suara manusia apalagi suara seorang perempuan….. Raksasi yang tidak lain adalah Ni Kalika itu berdiri dan membalikkan badan. Dilihatnya seorang perempuan tua ..wajahnya seperti bukan rakyat sembarangan, melainkan seorang yang mungkin berasal dari keturunan raja-raja…siapakah gerangan perempuan ini… berani sekali dia.

” Hai ibu tua berani benar engkau datang kesini… tidak tahukah engkau bahwa..kami Ni Kalika dan Ra Nini adalah penguasa hutan ini….dan Apa pula tujuanmu datang kesini, kalau tidak segeralah pergi sebelum kami marah dan memakanmu!! ….”

Dewi Kunti benar-benar tabah, tidak gentar atau gemetar sedikitpun melihat rupa Ni Kalika yang menyeramkan itu…. dan kini dia tahu bahwa Ni Kalika tidak sendiri melainkan ada temannya…siapa gerangan Ra Nini itu.?

“Ampun beribu ampun ….perkenalkan nama hamba Dewi Kunti, isteri Pandu Dewanata dan Ibu para Pandawa… kedatangan hamba kesini ingin bertemu dengan penguasa hutan ini hendak meminta tolong ….”

Ibu Pandawa!!! Ni Kalika mendadak berubah cerah wajahnya… teringat lagi kejadian sekitar 10 atau 11 tahun yang lalu ketika junjungannya dikutuk oleh suaminya dan ia pun karena ingin setia juga dikutuk… dan masih teringat sekali petunjuk Batara Guru akan syarat yang dapat melepaskan kutukan yaitu melalui Putera Pandawa yang terakhir….

Walaupun hatinya senang namun Ni Kalika tetap menjaga agar suaranya tetap seperti semula yaitu suara Raksasi yang keras dan menggelegar dengan nada yang tidak ramah…

“Mau minta tolong apa engkau ibu tua… junjunganku Ra Nini sedang tertidur …jangan pula engkau berani mengganggunya …..”

Didalam pesanggrahan… Ra Nini yang sebenarnya sudah terbangun saat mendengar ada percakapan diluar… suatu percakapan dengan manusia yang jarang didengarnya… maka secara naluriah dia terbangun dan memasang telinga.. mendengar ada kata-kata Pandawa disebutkan hatinya tersentak… sekarangkah saat pembebasanku?…

Mengetahui bahwa Ni Kalika tidak berkehendak menghadapkannya dengan Ra Nini junjungannya Dewi Kunti duduk bersimpuh dihadapan Ni Kalika dan berkata…

“Tolonglah Nyai aku sangat membutuhkan pertolongan dari Ra Nini…ini menyangkut nasib yang akan menimpa anak-anakku….” pinta Dewi Kunti.

” Baik aku akan melihat kedalam untuk memberi tahu, engkau harus bersikap sopan dihadapannya….” Ni Kalika berkata sambil membalikkan badan … namun belum sampai kakinya melangkah ke pintu.. dilihatnya junjungannya itu telah berdiri di ambang pintu…”

“Ada apa Ni Kalika, apa yang terjadi di sini ? ”

“Ra Nini junjunganku… ada seorang ibu tua yang mengaku bernama Dewi Kunti ibu dari para Pendawa hendak menghadap dan meminta tolong kepada junjungan..”

” Ra Nini yang mulia .., hamba bernama Kunti, datang menghadap dan menghaturkan sembah dan puja-puji kehadirat Paduka,” Ujar Dewi Kunti dengan suaranya yang lembut namun jelas terdengar.

Mendengar Dewi Kunti memperkenalkan diri Ra Nini mukanya berseri-seri, jadi benarlah apa yang dia dengar tadi..kemudian dia duduk diatas batu yang cukup besar di situ…Wajahnya yang menyeramkan itu mendadak jadi tampak lembut dan cerah..karena ia ingat janji suaminya bahwa ia akan terbebas dari kutukannya setelah menjalani hukumannya melalui putera Pandawa yang terakhir, dan bukankan Dewi Kunti adalah Ibu para Pandawa… seperti cerita-cerita yang sering ia dengar di kalangan para Dewa.

“Jelaskan kepadaku Kunti apa tujuanmu dengan berani datang ke tempatku ini..”

Kata Ra Nini sambil berpikir..Ooooh sudah saatnya penderitaanku berakhir dan hukumanku hampir usai hihihihi… aku akan dapat bersalin rupa …

“Ampun Ra Nini maksud kedatangan hamba kesini adalah meminta tolong kepada Ra Nini, Hamba selaku ibu para pandawa sangat khawatir dengan kehadiran dua raksasa sakti yang bernama Kalanjaya dan Kalantaka yang memihak pada Kurawa yang menjadi musuh dari anak-anak hamba.” Demikian Dewi Kunti menjelaskan.

“Hmmmmmh..” Ra Nini berpikir sebentar… Kalanjaya dan Kalantaka… raksasa.sakti.., sesakti apa mereka itu… pasti dapat aku kalahkan karena aku adalah seorang Dewi dari Suralaya. Mungkin ini caranya agar aku dapat diselamatkan dari kutukan. Ra Nini berdiam diri sejenak kemudian ia berkata.

“Hmmmmh kedua raksasa itu memang sakti…” Kata Ra Nini berpura-pura mengerti…” Tidak akan ada manusia yang sanggup mengalahkannya..” Ungkap Ra Nini. “Tetapi jangan khawatir.. aku bisa dan sanggup mengalahkan dan menumpas mereka berdua…….. Tetapi aku tidak akan menolongmu dengan cuma-cuma..sebagai imbalannya engkau harus menyerahkan kepadaku sebagai persembahan seekor Kambing Berwarna Merah, sebagai sajian untukku…!

Mendengar bahwa begitu mudahnya permintaannya langsung dikabulkan dengan syarat hanya seekor kambing, Dewi Kunti merasa senang dan segera menjawab sebelum Ra Nini berubah pikiran..

“Oh terima kasih Ra Nini yang mulia, akan hamba haturkan kambing merah sebagai sajian persembahan seperti yang Ra Nini inginkan…”

” Hi hi hi hi … …jangan terburu gembira dulu …. Kunti…yang aku inginkan adalah kambing yang semuanya berwarna merah, termasuk tanduk dan kuku teracak kakinya…he he he he he he he …..! Kata Ra Nini

Dewi Kunti tersentak..betul sekali… selama ini … memang dia tidak pernah menjumpai Kambing yang berwarna merah… apalagi tanduk dan kukunya juga berwarna merah…?

Dewi Kunti bingung memikirkan itu… setelah semua penderitaan yang dia lakukan demi anaknya… apakah semuanya kandas dan tidak ada hasilnya sama sekali? betapa tidak tega apabila ia menyaksikan anak-anaknya para Pandawa tumpas di babat habis oleh si Kalanjaya dan Kalantaka itu….hatinya tiba-tiba menjadi sedih..

“Ra Nini yang mulia… apakah tidak ada syarat lain yang bisa menggantikannya… apapun yang Ra Nini kehendaki akan hamba sediakan kalau perlu nyawa hamba sebagai penggantinya asalkan barang atau orangnya itu benar-benar ada di Marcapada ini….” Ratap Dewi Kunti memohon-mohon ke Ra Nini…

Ra Nini meminta Dewi Kunti menyerahkan satu anaknya

Ra Nini berbalik memunggungi Dewi Kunti… bibirnya tersenyum….

“Baiklah Kunti kalau engkau tidak sanggup menyediakan kambing merah maka hal lain yang lebih gampang engkau sediakan dan yang sepadan dengan kesulitanmu menyediakan kambing merah itu adalah .. anakmu yang bungsu…hi hi hi hi hi…”

Anaknya yang Bungsu…!!! apakah itu berarti Arjuna? dia sangat menyayangi anaknya itu… anaknya yang sangat tampan yang selalu menjadi kebanggaan, dia tidak akan rela menyerahkannya…kepada Ra Nini… Apa gunanya seluruh Pandawa selamat, namun Arjuna menjadi tumbal?

“Ra Nini hati hamba tidak akan sanggup untuk menyerahkan Anak hamba Arjuna sebagai persembahan…hamba tidak akan sanggup….oh Dewa tolonglah hamba…” kata Dewi Kunti yang semakin resah hatinya…

“Bodoh… yang aku maksudkan bukan Arjuna… melainkan si Sadewa..anak Madrim, memang dia bukan anak kandungmu…tapi dia pasti sudah kau anggap sebagai anak sendiri bukan?” Oleh karenanya akan lebih mudah bagimu menyerahkan Sadewa dari pada si Arjuna…karena dia bukan anakmu”

Dewi Kunti tercenung… Sadewa…anak Madrim…sudah sejak bayi mereka berdua menjadi keluarga Pandawa…ia sudah sangat menyayangi mereka seperti anaknya sendiri….apa yang akan ia katakan pada Dewi Madrim nanti di Suralaya apabila ia menyerahkan Sadewa sebagai tumbal… atau memang harus begini jalan hidup si Sadewa? Sekarang keberatan lain muncul dalam hatinya… sangat bingung memikirkan hal ini.

“Bagai mana Kunti apakah engkau sanggup ?!”

“Duh Ra Nini yang mulia, hamba juga merasa berat sekali menyerahkan Sadewa walaupun dia bukan anak kandung hamba, tak mungkin hamba dapa menyerahkannya sebagai persembahan untuk Ra Nini yang mulia ”

“Heh… kenapa tidak mungkin? ” Ra Nini mulai gusar karena permintaannya tidak dapat dipenuhi…dan mulai merasa bahwa perjanjian timbal balik ini akan menemui jalan buntu. Apakah ia tidak dapat kembali lagi ke ujudnya karena tidak ada Sadewa, dan semua Pandawa tumpas oleh si Kalanjaya dan Kalantaka?

“Bukankah si Sadewa bukan anak kandungmu, si Sadewa itu anak panas, sebab dapat dikatakan ia telah memakan ibu dan bapaknya sendiri…”

“Benar Ra Nini Sadewa memang bukan anak kandung hamba, tetapi hamba sangat menyayangi sebagai anak kandung hamba sendiri. Lagipula apa kata orang nanti, apabila hamba sampai tega mempersembahkannya sebagai kurban….?!

“…Ahhh apa pedulimu dengan kata orang … ! yang engkau pentingkan adalah keselamatan anak-anakmu…” Aku tidak peduli dengan segala alasanmu tadi…”

Sergah Ra Nini yang mulai tidak sabar… dalam hati dia sudah merencanakan suatu pemaksaan agar bisa menawan si Sadewa..

“Sadewa patut kau persembahkan sebagai tumbal karena dia adalah anak Panas, sebagai pengganti nyawa kedua raksasa yang sakti itu…!

Sekarang Dewi Kunti mulai merasakan watak Ra Nini yang kaku dan kasa itu…

“Maafkanlah dan ampuni hamba Ra Nini… mintalah yang lain sebagai pengganti nyawa raksasa itu…kalau bisa bukan berupa jiwa manusia… hamba akan berusaha untuk dapat memenuhinya….dan pasti akan mengusahakannya untuk Ra Nini..Sembah Dewi Kunti..

“Wuaaah… sudahlah pergi sana!, aku tidak akan mau menolongmu apabila engkau tidak datang bersama si Sadewa.!!.” Hardik Ra Nini yang sudah mulai marah… sinar matanya yang berkilat-kilat menjadi sangat merah dan mengerikan.

“Sekali lagi hamba mohon beribu ampun, Ra Nini. Hamba sampai memberanikan datang ke sini justru demi ingin mengusahakan kebahagiaan untuk semua anak hamba ” Ujar Dewi Kunti memelas dan masih mencoba terus walaupun raksasi didepannya sudah marah. Dewi Kunti tetap tidak putus asa.

“Maka bila kebahagiaan itu hanya bisa diperoleh dengan jalan harus mengorbankan salah seorang diantara anak hamba, hamba tentu sangat keberatan. Tidak akan rela dan juga tidak akan tega….lebih baik hamba ..mencari bantuan yang lain..
Kata Dewi Kunti mencoba menawar. Padahal ia tidak tahu lagi kemana mencari bantuan..dan apa pula yang disebut bantuan yang lain itu belum tentu ada… apalagi petunjuk Sang Hyang Narada dalam semadinya adalah minta bantuan ke Ra Nini ini.

“Huuuuuh ! Sadewa itu bukan anak kandungmu….!” Kata Ra Nini dengan ketus.

“Memang, seperti yang tadi juga hamba sudah jelaskan, Sadewa memang bukan anak kandung hamba, namun hamba tidak pernah menganggapnya sebagai anak tiri. Hamba menganggapnya sebagai anak kandung hamba”.

Begitulah begitu alotnya perundingan itu…walaupun Ra Nini sudah berusaha menjatuhkan derajatnya Sadewa di depan Dewi Kunti, tetap saja perempuan ini tidak bergeming. Bahkan dengan menakut-nakuti nanti tidak akan ada yang sanggup membantunya menghadapi dua raksasa itu… Dewi Kunti tetap menolak dan tidak hendak menyerahkan Sadewa.

“HHhhrrrrrggggggghhhhhh…. enyahlah kau sekarang juga Kunti…. aku tidak akan mau menolongmu…..biarlah keluargamu tumpas oleh raksasa itu…. sekali-kali aku tidak akan menolongmu…. kecuali ada si Sadewa di sini sebagai tumbal….” Ra Nini berkata dengan sangat keras dan marah…

“Hamba mohon diri Ra Nini yang mulia….” Sembah Dewi Kunti sambil berlinang air mata … mengetahui bahwa perundingannya telah gagal… dan itu berarti semua Pandawa harus bersiap-siap mati bersama…. dan sia-sialah semua penderitaan dan pengorbanannnya selama ini…

“Pergi …!!!” Ra Nini berbalik dan masuk ke dalam pesanggrahannya dan tidak mau melihat Dewi Kunti.

***

Sementara itu di Astina Kalanjaya dan Kalantaka sedang sibuk melatih pasukan perang Kurawa di Astina. Di otak merka hanya ada satu tujuan…musnahkan Pandawa secepatnya. Mereka berdua didampingi oleh dua orang adik Prabu Suyudana sang pemegang tahta kerajaan, yang bernama Adityakethu dan Bunawala. Dua orang Kurawa yang saat itu sedang naik daun karena kemahirannya mengatur siasat perang.

Kalanjaya mendengar yang mendengar kabar samar-samar tentang kematian Sadewa di Setra Gandamayu ingin membicarakan hal itu kepada Kalantaka adiknya.

“Adikku Kalantakan… aku mendengar dari kabar-kabar yang sampai disini bahwa Sadewa anak terakhir Pandu saudara Kembar Nakula telah mati dimakan raksasa”

“Hmm bagaimana hal itu bisa terjadi kakang.?” tanya adiknya Kalantaka

“Akupun tidak tahu pasti, yang aku dengar adalah Dewi Kunti Ibu para pendawa, datang ke hutan Setra Gandamayu untuk meminta bantuan kepada Raksasa yang menguasai hutan itu untuk menumpas kita berdua, namun Dewi Kunti pulang dengan setengah gila dan Sadewa diminta oleh Raksasa itu sebagai Wadal… ha ha ha ha ha…”

“Kakang kita perlu waspada agar kalau benar Raksasa itu membantu Dewi Kunti maka kita harus bersiap-siap..” Berkata Kalantaka

“Takut apa kau Kalantaka… kita berdua juga raksasa…apalagi kita berdua apakah kita takut menghadapi satu raksasa?..” Berkata Kalanjaya dengan pongahnya.

“Ya.. ya..ya ..kita tidak perlu takut., apa lagai Kurawa dan orang-orang sakti di Astina ada di pihak kita…” Kalantaka menimpali.

“Adikku Kalantaka, aku pernah mendengar bahwa Pandawa pernah bersumpah setia bahwa kalau ada salah satu saudara mereka diantara mereka berlima yang mati maka yang lain akan segera menyusul mati. Karena pantang bagi Pandawa yang lain untuk hidup kalau saudaranya mati” Kalanjaya mengatakan apa yang diketahuinya kepada adiknya

“Aku juga mendengar bahwa Nakula sekarang sedang melakukan hal itu.. dia tidak ingin hidup kalau saudaranya Sadewa telah mati.. dia sekarang kuburnya mencari mayatnya Sadewa kalau ada…”

“Wah itu berarti diapun mengantarkan nyawanya kepada Raksasa itu Kakang..”

“Betul sekali… adinda..Kita anggap saja si Nakula itu sudah mati..jadi sekarang tinggal tiga orang” Kalanjaya berkata dengan serius seperti sedang memikirkan sebuah rencana.

“Kekuatan mereka sekarang sedang lemah kakang.. karena tentu mereka sedang sedih atau bingung karena kehilangan Nakula dan Sadewa…”

“Kalau kita serang Bima, Arjuna dan Yudistira terus menerus pada saat ini pastilah mereka tidak akan dapat bertahan” Kalantakan mengemukana sebuah usul..

“Ya.. ya kau benar… Apalagi Yudistira itu… tidak pernah terdengar kabar sedikitpun kalau dia itu seorang yang pandai bertarung atau berperang..Pekerjaannya hanya mempelajari kitab Weda…jadi musuh kita sekarang tinggal dua orang Bima dan Arjuna..” Sahut Kalanjaya.

“Kita berdua menghadapi mereka berdua pastilah seimbang…apalagi kalau dikeroyok oleh bala tentara Kurawa pasti akan cepat selesai tugas kita…kita sudah ditolah oleh Suralaya dan tidak mungkin bisa kembali kesana oleh karenanya kita enak-enakkan hidup kita disini” Berkata Kalantaka, entah kata yang mana yang diucapkan oleh Kalantaka itu tiba tiba menyebabkan muka Kalanjaya menjadi murung.

“Baiklah… kita serang mereka… lebih baik kalau si Arjuna itu kita bereskan dulu..baru kalau dia sudah tumpas… kita kalahkan si Bima itu berdua.. dan setelah itu tinggal masalah gampang mengalahkan Yudistira yang tidak ada apa-apanya itu.” Kalanjaya berkata dengan tegas menutupi kesedihan hatinya.

“Apabila benar bahwa Pandawa tidak mau hidup lagi apabila salah seorang dari mereka itu telah mati, maka akan sangat memudahkan kita untuk menumpas orang yang ingin bunuh diri Kakang. Namun menurutku ada baiknya kita tidak terburu-buru melakukan penyerangan… kita harus menyelidiki dulu kebenaran kabar kematian Sadewa… apakah benar ia sudah mati atau masih hidup.. kemudian Nakula…” Kalantaka berusaha bertindak hati hati dan tidak gegabah memberi usul pada kakaknya.

” Menurutku mereka adalah satria-satria yang dikasihi oleh para Dewa, rasanya mustahil kalau mereka begitu mudahnya mati…” Berkata Kalantaka yang memang lebih waspada dan cerdik dari pada kakaknya.

” Ahhh kau jangan membuang waktu lagi…apabila kita menyelediki terlebih dahulu..maka kita kehilangan kesempatan untuk menumpas ketiga Pandawa yang lain…Pasti merekapun sekarang juga sedang menyelidiki kepastian itu, dan hati merekapun sedang diliputi keraguan dan kesedihan. Hal itu tidak akan berlangsung lama karena kalau mereka tahu bahwa ternyata adik mereka tidak mati maka mereka akan kuat lagi.!..”

“Lebih baik kita sekarang mempersiapkan segenap pasukan sekuat-kuatnya, untuk segera menyerang dan menyergap mereka serta menyerbu dan memporak-porandakan semua Pandawa itu.”..

“Prabu Suyudana pasti senang dengan rencana kita ini.. karena beliau juga pasti sudah tidak sabar akan hal ini…atau malah sebaiknya kita tidak usah memberi tahu Prabu Suyudana akan hal ini sehingga bila kita menang kita bisa memberi kabar gembira kepada paduka. Pasti kasihnya kepada kita akan bertambah-tambah”

Berkata Kalanjaya berturut-turut tanpa meberi kesempatan adiknya untuk berbicara.

“Baiklah Kakang… kita langsung saja menyerbu ke Indraprasta..”

Sesaat kemudian tampaklah Kalanjaya, Kalantaka, Aditya Kethu dan Bunawala berbisik-bisik serius tanpa ada yang dapat mendengar apalagi mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Setelah mereka selesai berbicara.. Aditya Kethu dan Bunawala bangkit dengan mata yang menyala-nyala.. segera mempersiapkan barisan tentara Kurawa untuk segera berbaris menuju ke Indraprasta.

***

Sebentar saja pasukan Kurawa yang terdiri dari ribuan prajurit telah berjajar rapi membentuk barisan panjang dan siap diberangkatkan berjalan kaki ke Indraprasta dan tinggal menunggu aba-aba dari pimpinan mereka.

Ketika mereka mulai bergerak, tak ayal lagi derap langkah mereka terdengar siapa saja yang sedang berpapasan jalan dengan pasukan itu. Beberapa orang yang tinggal di Astina sebenarnya lebih memihak ke Pandawa dari pada ke Suyudana, namun karena mereka telah lama tinggal disitu mereka berdiam diri saja dan berpura-pura membela Prabu Suyudana yang mendapatkan tahta kerajaan dengan cara yang licik dan memaksa kepada ayahnya.

Beberapa orang yang setia kepada Pandawa itu segera bertindak menyuruh anaknya atau siapa saja yang dapat dipercaya untuk segera mendahului tentara itu memberi kabar berita secepatnya ke Istana Indraprasta.

Beberapa diantara rakyat yang setia itu menggunakan kuda pinjaman untuk memacu diri secepat-cepatnya ke pinggiran Indraprasta..dan dipinggiran kerajaan Indraprasta orang-orang yang masih setia itu segera mendatangi rumah telik sandi kerajaan Indraprasta yang rumahnya memang sengaja tinggal didaerah pinggiran kerajaan Indraprasta… dan akhirnya.. Yudistira mendengar kabar penting itu.. bahwa Kalanjaya dan Kalantaka sedang menuju ke Istana Indraprasta segera menyerbu kerajaannya.

Yudistira atau Puntadewa atau Samiaji segera memanggil kedua adiknya..untuk berunding dan membicarakan hal yang penting tersebut.

“Adikku Arjuna dan Bima, apa yang harus kita perbuat kini.. tentu kalian telah mendengar tentang Kalanjaya dan Kalantaka seperti yang dicemaskan oleh ibunda kita, dan sekarang hal itu benar-benar terjadi bahwa Kedua raksasa itu akan menyerang kita..” Terdengar suara Yudistira yang halus namun penuh kekhawatiran.

“Jangan takut kakanda prabu…biar aku yang menghadapi mereka sendiri ..aku tidak takut sedikitpun walaupun dikeroyok oleh mereka berdua..” Sahut Bima dengan gagahnya…tanpa terdengar rasa takut sedikitpun.

Memang Bima dari sejak kecil telah menjadi seorang yang gagah berani.. telah banyak peristiwa yang dilalui oleh Bima dan peristiwa peristiwa itu menjadikannya manusia yang kuat perkasa dan sakti mandraguna. Arjuna hanya tersenyum saja menyaksikan Kakaknya yang tinggi besar itu.

“Bima adikku ..jangan tergesa-gesa menuruti amarahmu kepada Kurawa…..Dinda, menurutku sebaiknya Adinda Arjuna yang maju terlebih dahulu untuk mengukur seberapa besar kekuatan mereka… setelah itu barulah engkau boleh maju …” Ujar Yudhistira dengan suara tetap lembut.

Bima tidak menjawab namun ia mengangguk-anggukkan kepala dan mengelus jenggotnya yang tebal..

“Ya Kakang biarlah aku maju dulu…nanti kakang akan tahu sendiri kapan saat yang tepat untuk maju…” Kata Arjuna.

“Sekalian Kakanda Prabu .. aku mohon diri dan restu untuk menghadapi kedua raksasa itu…”

“Ya.. ya bersiaplah segera jangan membuang waktu lagi… dan Kau Bima siapkanlah pasukan Indraprasta secepat mungkin untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi mengingat kita tidak mengenal lawan kita kali ini…”

Arjuna segera bangkit berdiri dan menuju kearah tempat dimana kereta perangnya diletakkan. Dia memberi petunjuk kepada pegawai istana yang mengurusi kereta perang agar mempersiapkan kuda dan persiapan senjatanya. Setelah selesai memberi petunjuk Arjuna masuk kedalam hendak memohon restu pada Ibunya, Dewi Kunti.

Dewi Kunti memberi restu sambil menangis..benar-benar mengharukan..peristiwa itu sungguh sangat terlihat cinta seorang Ibu yang akan kehilangan anaknya…
Setelah Sadewa.. Kemudian Nakula sekarang Arjuna…nanti Bima dan akhirnya Yudistira… seolah Dewa telah mengurutkan kehilangan anak-anaknya dari yang termuda ke yang paling tua…oh ibu mana yang tidak sedih menghadapi peristiwa semacam ini…Matanya menjadi buram saat dilihatnya anaknya yang tampan si Permadi itu melangkah tegap .. memeluk isteri dan anak-anaknya kemudia berjalan pasti menuju kereta perang…. dalam hitungan singkat ia telah siap berada di belakang kendali keretanya dan terdengar ringkikan suara kuda yang seperti mengajak secepatnya menghadang kedua musuh besar itu..

Dengan hilangnya pandangan Dewi Kunti dari Kereta Arjuna.. para menantunya bergantian menghiburnya.. Drupadi yang cantik dengan rambut yang selalu terurai.., Arimbi yang sedang menggandeng anak Bima si Gatotkaca.. dan Srikandi yang sejak tadi menggandeng tangannya .. dapat dirasakan kesedihan menantunya itu.. namun ia pantang menangis karena Srikandi adalah seorang Satria wanita.

Sepeninggal Arjuna Bima memerintahkan beberapa prajurit berkuda untuk mengejar dan menemani Arjuna menghadapi Kalanjaya dan Kalantaka. Prajurit pilihan yang berjumlah dua belas orang itu rata-rata ahli mamanah dan menggunakan senjata sambil menunggang kuda. Dua belas prajurit pilihan itu siap dengan segera dan tidak lama kemudian kelepak suara kuda mereka begitu riuhnya..berlari mengejar arah yang dituju Arjuna..rakyat Indraprasta menyemangati mereka dan semua mengelu-elukan mereka untuk berani maju mempertahankan negeri mereka.

Setelah itu Bima mempersiapkan diri sendiri untuk segera membantu Arjuna..disamping itu ia memberi petunjuk semua kepala pasukan untuk mempersiapkan pasukan secepat mungkin dan akan segera diberangkatkan..Pasukan ini adalah pasukan pejalan kaki dengan senjata dan tameng lengkap sebagai pasukan penutup pada pertempuran nanti.

Beberapa waktu kemudian terjadilah hal yang sama ketika Bima meminta ijin dan restu dari ibundanya…kali ini kejadian yang lebih mengharukan terjadi ketika Gatotkaca yang masih bisa dibilang anak-anak ikut mempersiapkan diri dan seperti hendak menemani anaknya… tentu saja Bima melarang karena hal ini sangat berbahaya.. Gatotkaca menangis meminta ijin kepada ayahnya namun ayahnya berkeras.. Dewi Arimbi dan Dewi Kunti menahan Gatot Kaca dan memberi penghiburan dan pengertian akan besarnya bahaya yang sedang dihadapi ayahnya dan mungkin seluruh rakyat Astina.

Bima kini telah bersiap untuk memimpin barisan jalan kaki dengan suara yang sangat keras Bima memberi aba-aba pasukannya untuk mulai jalan…suara keras itu disambut gemuruh pasukan yang telah mempersiapkan diri masing-masing..

Disepanjang jalan.. para istri pasukan dan satria yang berjalan kearah medan perang mengelukan,, ada yang menangis ada yang berteriak-teriak memanggil suaminya.. ada yang terdiam sedih …semuanya larut dalam pemikiran masing-masing apakah kali ini negeri mereka bisa selamat?

Bima mulai berjalan kaki dengan tegap.. memang dia tidak pernah mau naik kereta atau kuda … dia tidak suka ..mengingat itu dia jadi malu sendiri ketika tadi ia mengusulkan untuk maju sendiri lebih dulu.. pastilah akan sangat lama untuk bertemu dengan Kalanjaya dan Kalantaka … memang lebih baik si Arjuna yang menghadapi lebih dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: