Dan Langit Pun Menangis

by singalodaya

Sinopsis : Musuh terkuat adalah diri sendiri, yang selalu mengintai dan mempertanyakan tentang masa lalu dan masa depan. Bahkan Seorang pria yang disebut-sebut lelanang ing jagad (lelakinya dunia) pun bisa menjadi lemah dan tak berdaya. Di Kurusetra, disaksikan jutaan pasang mata, haruskah Arjuna takluk di tangan Karna? Atau haruskah ia menaklukkan Karna dengan segenap upayanya? Sementara untuk menaklukkan dirinya sendiri pun ia tak sanggup.

Padang luas itu masih mengepulkan sisa-sisa asap pertempuran. Bau darah yang anyir membekas kuat, seakan mengingatkan hadirnya mayat bergelimpangan yang memenuhi tempat itu. Senjata, pedang berbagai ukuran, anak-anak panah yang telah patah, topi-topi prajurit berserakan, meminta dikembalikan kepada tuan-tuan mereka, baik yang telah memperoleh kemenangan maupun yang tinggal kenangan. Mati diterjang ujung senjata lawan.

Sosok itu berdiri mematung di sisa-sisa senja. Wajahnya dingin dan tak perduli. Panca inderanya sudah mati. Ya, sudah mati! Betapa tidak? Anak lelaki kebanggaannya, yang paling ia harapkan menjadi penerusnya, kini harus bernasib sama dengan onggokan tulang belulang di Kurusetra. Tubuhnya yang gagah, hancur diterjang puluhan panah yang mengantar lelaki muda itu menemui penciptanya.

Arjuna masih mematung. Sungguh, ia benar-benar telah kehabisan air mata untuk mengungkapkan kesedihannya. Perang ini tidak pernah ia kehendaki. Lelaki itu masih lebih memilih menjadi pengelana hutan daripada kehilangan semua anak-anaknya.Anak-anak dari berbagai ibu, yang bahkan banyak di antara mereka yang tak pernah merasakan asuhannya, tiba-tiba datang dan menyatakan ingin membantu Pandawa memenangkan perang.

Masih segar dalam ingatan Arjuna masa kecil yang terpatri begitu dalam di hati dan benaknya. Itulah kebahagiaan sempurna yang bisa didapat seorang anak tanpa ayah, dengan status putra raja yang tak kunjung diberikan.

Ada sosok lain lagi yang berjalan mendekat. Tubuh hitam kelam dengan pakaian kebesaran seorang raja. Sengaja sosok itu berdiri agak jauh, mengamat-amati saudara sepupunya yang sudah seperti adiknya sendiri, bahkan lebih. “Menyesali perang ini lagi, adikku?”

Arjuna menoleh. Cepat-cepat ia berjalan mendekati sosok titisan Batara Wisnu itu dan memberi penghormatan. “Kalau saya berkata jujur, kanda. Tentu saya tak ingin perang ini terjadi.”

“Dan membiarkan angkara murka berkuasa di muka bumi?” Suara Kresna tetap tenang. Arjuna terdiam. Dia selalu saja kehilangan segala kata-kata di depan tokoh yang ia kagumi ini.

Sang Dananjaya menatap Prabu Kresna dengan ragu-ragu dan berkata perlahan. “Kalau saja Bharatayudha tidak terjadi, kita tidak akan kehilangan eyang Bisma, guru Dhorna, anak-anak Pandawa dan ribuan prajurit yang tidak berdosa.” Arjuna berkeras, masih berusaha mendebat walaupun keyakinan di hatinya mulai goyah.

Kresna mendehem. “Apakah kau sadar bahwa perang ini adalah takdir? Kita tidak akan pernah tahu apa maksud sebenarnya peperangan ini. Bukankah kau mengaku ksatria, Arjuna?! Mana tanda-tanda kesatriaanmu? Apakah kau kira dengan pakaian senopati, membawa senjata dan berkereta kuda, kau seorang ksatria? Jangan buat malu para dewa yang sudah membekalimu kesaktian selama ini!”

“Apakah membunuh itu dharma ksatria, Kanda?” Arjuna mencoba mendebat lagi, melawan segala kesedihan yang sudah menghancurkan hatinya. “Kau membunuh untuk kebenaran. Dan segala yang terjadi pada perang ini adalah jalan karma bagi setiap manusia. Resi Bhisma sudah rela untuk memberikan nyawanya demi menebus segala dosanya. Apa kau pikir kalau ia dibiarkan hidup ia akan bahagia, Arjuna? Pergunakanlah otakmu! Jangan memakai hatimu untuk menyelesaikan persoalan ini.”

Arjuna berlutut dan mengambil sepotong anak panah yang telah patah. “Kanda, benarkah benda ini yang telah mengantar anakku ke akhirat? Mungkinkah pasopatiku pun akan kugunakan untuk cara yang sama? Mengantar seseorang yang menjadi tumpuan harapan orangtuanya ke alam baka?” Arjuna menggigit bibirnya. “Lebih baik saya kembalikan saja pasopati ke Hyang Indra.”

Batara Kresna menghela nafas. “Ayolah adikku, kita segera kembali ke perkemahan. Tak ada gunanya berdiam terus disini dan menyalahkan dirimu sendiri.” Cepat raja besar itu memutar tubuhnya dan meninggalkan sang Dananjaya yang masih berdiri termangu-mangu di keheningan Kurusetra, ditemani teriakan burung pemakan bangkai yang siap berpesta pora.

***

“Ananda Kresna, bagaimana strategi yang paling tepat untuk menyelesaikan perang ini? Korban semakin banyak berjatuhan. Hari ini telah banyak pula yang mati. Dan kita tidak tahu siapa yang akan menyusul besok. Eyang sangat ingin perang ini segera diakhiri.” Prabu Wirata itu terbatuk. Raut wajahnya yang memancarkan wibawa dan kebijaksanaan tampak diliputi garis-garis kesedihan yang mendalam.

Prabu Kresna menghaturkan sembah. “Sebaiknya kita segera mengangkat senopati baru, Kakek Prabu. Hamba dengar pihak Astina sudah siap mengangkat senopati baru. Sebaiknya kita juga mengangkat senopati baru sebagai tandingan.” Suara Kresna yang jelas dan bening mengisi keheningan ruang pertemuan itu.

Di pintu masuk tampak Bima yang berdiri menjaga, wajahnya diliputi kesedihan, yang hampir tak pernah membayang sebelumnya. Arjuna hanya duduk termangu-mangu, tidak mendengarkan. Para raja dan sekutu mereka duduk dengan khidmat, sesekali berbicara pada rekan di sebelahnya.

“Saya setuju dengan usul Anda, Batara Kresna.” Seorang raja mengangkat tangannya dan berdiri untuk berbicara. “Tapi siapakah senopati baru Astina, dan siapa senopati tandingan dari pihak kita?” Batara Kresna tersenyum puas, mengangkat sebelah tangannya untuk memberi isyarat agar raja sahabat itu duduk, sementara ia sendiri berdiri untuk menjawab. “Kakek Prabu Matswapati dan hadirin sekalian yang saya hormati, menurut pendapat saya, pihak Astina pasti akan mengangkat Adipati Karna sebagai senopati agung, dan lawannya tidak lain adalah adik saya, Arjuna!”

Suara Prabu Kresna yang lantang membuat Arjuna terkesiap. Suasana ruang itu agak gaduh sejenak, sementara Prabu Kresna tersenyum puas, senang akan keputusannya barusan.

“Saya tidak bersedia, Kanda!” Suara Arjuna yang biasanya lembut berubah keras dan gugup. “Kenapa adikku? Jangan kau bilang kalau kau takut menghadapi Karna.” Prabu Kresna tetap tenang. Sebaliknya, Arya Werkudara yang memang tidak sabaran mulai naik darah.

“Jelamprong adikku, apa kau takut menghadapi Karna? Ayolah, kau bukan anak kemarin sore yang masih harus disusui ibunya!”

“Saya tidak takut, Kanda. Hanya… Saya masih dalam keadaan berkabung karena kematian Angkawijaya. Sementara, saya tidak ingin berperang, apalagi menghadapi Kanda Karna.” Wajah Arjuna yang tampan memerah. Arya Werkudara menggeram. Mendung mulai bergayut kembali di wajahnya. Teringat akan sang Gatotkaca yang pergi mendahului ayah bundanya.

“Sudahlah, Arjuna, kalau kau tidak bersedia, kau boleh pergi dan menenangkan diri sekarang. Kresna anakku, siapkanlah senopati cadangan, kalau-kalau adikmu benar-benar tidak bersedia menghadapi Karna.” Prabu Matswapati menengahi. Ia tidak menginginkan suasana memanas. “Baiklah Eyang, semua saya serahkan kepada Eyang.” Kresna berkata hormat, sementara Arjuna menghaturkan sembah dan lekas pergi, menyendiri, jauh dari segala hiruk pikuk dentingan pedang dan desingan panah.

Arjuna memasuki hutan rimba yang lebat di sisi Kurusetra. Tubuhnya menggigil. Bukan karena takut, karena bagi Arjuna hutan rimba yang lebat dan penuh dengan setan, jin, iblis, genderuwo dan segala jenis makhluk halus lainnya sudah seperti rumah keduanya. Ia lebih sering bersama 4 punakawannya mondar-mandir keluar masuk hutan daripada berada di Madukara.

Bayangan Karna berkelebat di depannya. Ah, dia bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya kepada laki-laki itu. Rasa benci? Sayang kepada saudara? Marah? Atau menyesali keputusan Karna untuk membela pihak musuh?

Arjuna tetap merasa bahwa apapun pilihan Karna bukanlah urusannya. Tapi lain akibatnya bila mereka berdua harus berhadapan sebagai sesama senopati. Arjuna merasa telah banyak mengalami kehilangan, dan kehilangan Karna bukanlah pilihan terbaik yang ia inginkan.

Bagaimanapun Karna adalah saudara seibu, yang sedari kecil bahkan belum pernah merasakan belaian tangan dan air susu Kunti, ibunya sendiri. Arjuna merasa ia jauh lebih beruntung dari saudaranya itu, setidaknya dapat merasakan indahnya masa kecil, yang diliputi kasih sayang ibu dan saudara-saudaranya.

Masih segar dalam ingatan Arjuna, bagaimana Karna dapat menyamai kepandaian memanah yang ia pamerkan dalam adu ketangkasan antara Pandawa dan Kurawa ketika mereka masih remaja dahulu. Dan bagaimana ia dan kakaknya Bima telah menghina Karna dengan menyebutkan keturunan putra dewa surya itu.
Memang, Karna adalah anak angkat kusir Adirata, tapi apakah ia dan Bima pantas menghina lelaki itu? Arjuna menutup wajahnya dengan kedua belah tangan, menahan air matanya yang hendak menetes jatuh.

***

“Akhirnya kau datang juga adikku.” Bibir Karna menyunggingkan seulas senyuman melihat sosok gagah di atas kereta kuda yang dikusiri Prabu Kresna yang agung. Hati Karna mendadak seperti ditoreh oleh sebilah pisau tajam.

Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya melihat adik yang nyaris tak pernah menghabiskan waktu bersama dengannya tiba-tiba harus ia hadapi. Dan bahkan ia musnahkan untuk mencapai kemenangan.

“Ya, ini saya, Kanda.” Arjuna berkata dengan kaku. Suaranya bergetar. Prabu Kresna menoleh dan tersenyum pada sang Palguna untuk menyemangatinya. Dengan lihai titisan Wisnu itu memacu kuda-kudanya mendekati kereta kuda Karna.

“Cepatlah kau lepas panahmu Arjuna! Makin cepat kau lepas panahmu, makin cepat pula aku bisa menggunakan panahku untuk mengakhiri hidupmu!” Karna berteriak menantang, mencoba menandingi teriakan-teriakan dalam hatinya sedari tadi. Kuda-kuda dari kereta yang dikusiri mertuanya turut meringkik-ringkik, seakan mendukung setiap perkataan penumpangnya.

Kresna tersenyum. Raja besar yang arif itu tahu betul apa yang berkecamuk di dada kedua saudara seibu itu. Tapi inilah tugasnya. Untuk mengobarkan Bharatayudha dan menumpas bibit angkara di muka bumi. Tugas yang harus diembannya sebagai titisan Wisnu.

Waktu di Kurusetra seakan terhenti. Para prajurit yang ratusan ribu jumlahnya, meletakkan pedang, perisai, dan senjata apapun yang mereka pegang untuk menonton pertandingan akbar itu. Tidak ada yang bergerak. Semuanya berdiri, menonton dengan perasaan tegang, dan hati masing-masing memanjatkan doa, berharap agar gusti mereka memenangkan pertempuran itu.

Kresna berpaling pada saudara sepupu sekaligus iparnya itu. “Ayo Arjuna, lepas panahmu! Apa kau akan membiarkan senja turun dan pertempuran harus berlanjut esok?”

Arjuna menggigit bibir, mengambil sebatang panah dan melepasnya. Karna tersenyum, melepas sebatang panah pula untuk mengatasi panah Arjuna, kemudian dengan sigap ia mematahkan panah itu menjadi dua.

“Arjuna! Apa hanya ini senjatamu? Mana hasil bertapamu? Alangkah sayangnya waktu yang kaugunakan untuk bertapa dan berguru, kalau hanya ini hasilnya!” Karna tersenyum mengejek. Dilepasnya sebatang panah lagi, kali ini seolah memamerkan keahliannya. Panah itu berdesing, dan seakan berjiwa, mengarah tepat ke dada Arjuna. Tapi kesigapan Kresna mengendarai kudanya telah menyelamatkan lelanang ing jagad yang tengah berkecamuk hatinya itu.

Kuda-kuda pengendara kereta itu pun seakan berubah menjadi kuda-kuda binal yang siap menerkam siapa saja. Langkah kaki mereka mengepulkan debu yang memperpanas suasana Kurusetra.

Arjuna menengadah ke langit, melihat kehadiran dewa-dewa, dewi-dewi istrinya dan segala penghuni kahyangan yang hadir hanya untuk menyaksikannya. Ribuan helai bunga telah mereka taburkan untuk menambah semangat juang Arjuna, meredam gejolak hatinya yang meningkah tajam.

Tapi yang lebih menarik perhatiannya adalah sosok Abimanyu di kejauhan, yang di matanya terlihat berlari-lari, memanggil-manggilnya ayah. Seakan-akan ia mendekati ayahnya, dan membisikkan kata-kata agar Arjuna terus maju, memenangkan pertempuran ini dan membalaskan dendam kematiannya.

Arjuna terperangah. Tangannya telah bergerak, hendak membelai kepala putra tertuanya. Tetapi mendadak bayangan Abimanyu lenyap, terbawa angin yang menerbangkan debu-debu ke atas.

“Ada apa, Arjuna?” Prabu Kresna menoleh, keheranan melihatnya terpaku. “Tidak, Kanda. Seakan-akan tadi saya melihat Angkawijaya disini.” Arjuna masih tak percaya. Tatapan matanya menerawang jauh.

Prabu Kresna tertawa. “Kau lihat, Arjuna? Bahkan putra kesayanganmu pun telah rela menjadi perantara malaikat maut untuk membalas kematiannya.” Arjuna masih tertunduk, raut wajahnya sulit diterka.

“Nah, kalau begitu apa yang akan kau lakukan sekarang Arjuna? Tetap diam dan membiarkan dirimu mati konyol ditembus panah Karna? Atau melawan dan memperoleh kemenangan?” Prabu Kresna menatap adiknya dengan seulas senyum di bibirnya.

Arjuna menggigit bibir sambil merapal doa. Diliriknya sekali lagi wajah legam saudara ipar sekaligus sepupu yang sangat ia hormati itu. Diambilnya Pasopati andalannya, sembari bersiaga menarik temali busur. Segenap penghuni Kurusetra menahan nafas, waktu yang hanya beberapa detik seakan beberapa abad. Kresna memiawik keras, “Sekarang, Arjuna!”

Sesaat setelah itu, Pasopati melaju lincah, merenggut jiwa senopati Hastinapura. Memisahkan kepala bermahkota itu dari tubuh yang berhiaskan pakaian kebesaran senopati. Serentak terdengar hiruk pikuk dari barisan Pandawa maupun Kurawa. Barisan Pandawa karena gembira, sedangkan barisan Kurawa karena sedih dan kecewa. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi terompet, menandakan perang hari itu telah berakhir. Prabu Salya yang mengusiri kereta hanya termangu memandangi tubuh menantunya tanpa kepala, sebelum sadar apa yang harus ia lakukan. Cepat dihelanya kereta kuda itu menuju garis belakang.

Prabu Kresna pun memacu kudanya ke garis belakang. Siap memberikan laporan pertempuran hari itu dan merancang strategi selanjutnya. Matanya sempat melirik ke arah sepupunya. Arjuna tengah tertunduk dengan tubuh bermandikan keringat. Prabu Kresna tidak berkomentar, terus mengendarai kudanya dengan tenang. Ia melayangkan pandangan ke langit senja itu, sedikit terkejut karena langit yang tadi cerah mendadak gelap. Seolah-olah turut bersedih, langit senja itu pun menangis, mengiringi kepergian sang putra matahari.

***

One Comment to “Dan Langit Pun Menangis”

  1. Kisah tragedi yang sarat nilai.
    Harus menjadi pelajaran bagi semua….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: