Nagarakrtagama, Aslinya Desawarnana

by singalodaya

ERITA – seni-budaya.infogue.com – JAKARTA, SENIN – Filolog Prof Dr Stuart Robson dari Monash University mengungkapkan bahwa Nagarakrtagama yang mendapat pengakuan sebagai Memory of the World dan sertifikatnya diterima Kepala Perpustakaan Nasional RI Dady P Rachmananta dari Unesco, Senin (26/6), bukan judul/nama asli yang diberikan Mpu Prapanca. Nama asli yang diberikan Mpu Prapanca adalah Desawarnana.

“Mpu Prapanca memakai nama asli Desawarnana yang berarti deskripsi daerah-daerah, karena isi teks bagian yang penting dari karya itu memuat tentang hal itu. Namun demikian, sejarawan di Indonesia dan di luar negeri terlanjur mengenal karya sastra agung sebagai Nagarakrtagama,” kata Stuart Robson, pada acara Talk Show di [/color]Perpustakaan Nasional, Senin (26/5).

Robson yang 40 tahun lebih meneliti teks-teks Jawa Kuno menjelaskan, Nagarakrtagama adalah karya luar biasa yang tidak ada bandingannya. Bahkan boleh disebut unik dalam khasanah sastra Jawa Kuno. Bukan hanya soal keindahan, melainkan juga perhatian pengarangnya terhadap lingkungannya dan riwayatnya yang disampaikan mengenai kejadian yang disaksikan sendiri.

Bahasa Jawa Kuno yang ada pada Nagarakrtagama sulit dipahami oleh penutur bahasa Jawa sekarang, karena ia bukan bahasa Kawi yang terdapat dalam karya klasik Jawa, seperti karangan Ranggawarsita dalam abad ke-19. Bahasa Jawa Kuno yang dituturkan Mpu Prapanca, lebih tua lagi. Dapat didefenisikan sebagai bahasa Jawa dari zaman sebelum masuknya Islam di Jawa, yang diilhami peradaban Hindu-Budha Jawa.

Robson yang menguasai bahasa Jawa Kuno itu juga mengungkapkan siapa Mpu Prapanca yang selama ini dipertanyakan banyak orang.

Dalam karyanya itu, Mpu Prapanca adalah nama yang diperkenalkan sebagai mana disebutkan: ..ngkan teking maparab Prapanca tumut anglenggeng angiring i jong nareswara ( ..lalu orang ini yang bernama Prapanca ikut mengembara dalam keindahan alam sambil mengiring sang nareswara).

“Dia menerangkan bahwa dia berkedudukan sebagai dharmadhyaksa kasogatan, yaitu kepala departemen urusan Agama Budha dan telah mengganti ayahnya. Prapanca menyebut diri sang kawi putra sang kawi, yaitu penyair, seperti ayahnya yang juga penyair,” kata Robson.

Menurut Robson, Nagarakrtagama yang dibagi atas 94 pupuh (canto), ditambah empat lagi yang tidak ada kaitannya, diselesaikan pada 30 September 1365. Jelaslah, Mpu Prapanca tidak mengarang kakawin ini sekaligus. Beliau memakai catatan mengenai perjalanan raja yang dibuat tahun 1359, lalu karangannya ditambah sedikit demi sedikit.

“Ternyata Nagarakrtagama bukan satu-satunya karangan Prapanca. Masih ada karya lain yaitu Sakabda, Lambang, Parwasagara, Bhismasarana, dan Sugataparwa, dengan catatan bahwa Lambang dan Sakabda digarap kembali, ditambahi dan belum selesai,” paparnya.

“Tampaknya metode yang sama dengan halnya Nagarakrtagama: ditambah-tambah dengan informasi yang baru.”

Filolog Monash University ini banyak mengatakan, Nagarakrtagama sebagai karya sastra dengan tujuan tertentu tidak boleh dianggap obyektif sama sekali. Ia tidak dikarang dengan maksud supaya dijadikan tambahan data untuk sejarawan, tetapi pasti mengandung informasi luar biasa banyak tentang negara Majapahit pada puncak kemegahannya.

Fakta geografi dapat dilihat lewat peta; data arkeologi dapat diteliti melalui penginggalan; tapi di pihak lain dalam bidang sejarah dinasti, misalnya, juga ada pengakuan atau klaim yang sifatnya tak mungkin diperiksa lagi.

sumber: kmps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: