Menyambut Hari Korupsi 9 Desember, Kita belajar kasus DPR Amerika

by singalodaya

KEHORMATAN, martabat, dan citra Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) mendapat sorotan tajam sebagai imbas atas skandal salah satu anggotanya, James Traficant. Anggota DPR dari Partai Demokrat itu dipecat atas tuduhan melakukan penyuapan, pemerasan, dan penggelapan pajak.

Hampir seluruh anggota DPR merasa sangat tertampar. Kesalahan Traficant yang berasal dari daerah pemilihan Ohio itu dianggap mengkhianati kepercayaan rakyat, sekaligus menghancurkan kehormatan,martabat, dan citra Kongres (Senat dan DPR).

Posisi DPR maupun Senat dalam sistem ketatanegaraan AS memang sangat tinggi. Kongres merupakan simbol keluhuran demokrasi, tempat berkumpul orang-orang pilihan sebagai wakil rakyat yang memiliki integritas, tanggung jawab, etika, dan kehormatan.

Rakyat AS pun menaruh hormat dan membanggakan perilaku para anggota Kongres. Tidak sedikit negara di dunia mengacu pada cara kerja,dedikasi, dan integritas para anggota Kongres AS. Sebaliknya pula, AS mengajarkan para anggota DPR atau Senat di negara-negara lain bagaimana harus berperilaku dan menjalankan tanggung jawabnya.

MASUK akal, rakyat AS maupun masyarakat dunia sangat sensitif terhadap setiap kesalahan yang dilakukan anggota DPR dan Senat AS. Semua dibuat terhentak oleh skandal pemecatan Traficant.

Hasil kerja tim investigasi, yang mirip dengan Panitia Khusus (Pansus) di DPR RI, menyimpulkan bahwa Traficant bersalah pada sembilan dari 10 tuduhan pelanggaran etik, dan merekomendasikan pemecatannya.

Para anggota DPR memberikan suara hari Rabu 25 Juli dengan suaradukungan 420 berbanding satu terhadap pemecatan Traficant, yang beberapa kali terpilih sebagai anggota DPR sejak tahun 1984.

Sementara proses hukumnya dimulai bulan April lalu ketika panel juri di Cleveland, Ohio, yang memutuskan Traficant terbukti bersalah dalam 10 kasus suap, pemerasan, dan penggelapan pajak. Putusan juri ditanggapi DPR tanpa niat sedikit pun untuk menyembunyikannya.

Pekan lalu Komite Standar Perilaku Resmi DPR menyatakan, Traficant memang bersalah, terutama pada sembilan dari 10 tuduhan pelanggaran etik, dan merekomendasikan pemecatannya.

Langkah politik dan proses hukum tampaknya berjalan secara paralel dan saling memperkuat, bukan menghambat. Traficant tidak hanya kehilangan kursi DPR, tetapi akhir bulan Juli ini akan diadili dengan tuntutan tujuh tahun penjara.

Para anggota DPR yang memberikan suara mendukung pemecatan, umumnya mengaku mengalami pergulatan batin. Sesuatu yang sangat manusiawi.Pada dasarnya, tak seorang pun ingin menghakimi rekannya sendiri.

AKAN tetapi, segera kelihatan pula, bagaimana DPR Amerika memilah-milah antara urusan pribadi, kepentingan kelompok, partai, atau pertemanan dengan kepentingan bangsa secara keseluruhan. Kepentingan
umum harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan partai. Pemihakan DPR AS terhadap kepentingan rakyat dan bangsa kembali terlihat jelas dalam kasus Traficant.

Tindakan pemecatan Traficant termasuk fenomenal dalam sejarah AS. Tokoh berusia 61 tahun dan beberapa kali terpilih menjadi anggota DPR sejak tahun 1984, tercatat sebagai anggota DPR ke-2 yang dipecat sejak berakhir Perang Saudara tahun 1861-1865.

Kasus pertama menimpa Michael Myers, juga dari anggota Partai Demokrat dengan daerah pemilihan Pennsylvania, tahun 1980. Myers dipecat atas tuduhan menerima suap dari agen-agen Dinas Rahasia Federal (FBI) yang menyamar sebagai Sheikh Arab yang coba mengganti Undang-Undang (UU) Imigrasi.

Tiga anggota DPR lainnya, dipecat karena terbukti bersalah melakukan pengkhianatan dengan mendukung gagasan konfederasi dalam Perang Saudara tahun 1861-1865. Dengan demikian, tercatat lima anggota DPR
yang dipecat selama sejarah negara modern AS.

KOMENTAR atas skandal Traficant bisa bermacam-macam, mulai dari yang bernada sinis sampai dengan dalih pembenaran diri. Dapat saja muncul suara, DPR di AS pun tidak luput dari godaan menerima suap, melakukan
pemerasaan, dan penggelapan pajak.

Namun, ada yang bergumam, alangkah hebatnya AS. Anggota DPR yang ketahuan melakukan kesalahan langsung dipecat oleh lembaganya sendiri. Tidak perlu menunggu-nunggu. Juga tidak ada upaya menyembunyikan kesalahan. Keadaan ini sangat kontras dengan situasi di negara kita, Indonesia.

Agar penilaian terhadap skandal Traficant proporsional dan arif, kiranya perlu diakui pula, tidak pernah ada yang membenarkan anggapan bahwa keadaan di AS memang sudah serba beres dan sempurna.

Negeri itu memang maju dan makmur, tetapi masih terdapat banyak persoalan, termasuk korupsi, penggelapan pajak, konflik rasial,diskriminasi, dan ketimpangan kaya-miskin. Namun, sejelek-jeleknya AS, bangsa itu tetap memperlihatkan keunggulan dalam upaya memperbaiki diri. Segala sistem, perangkat hukum, dan mekanisme
penyelesaian yang telah disepakati, dilaksanakan secara konsekuen.

Sumber: Kompas

Tags: ,

One Comment to “Menyambut Hari Korupsi 9 Desember, Kita belajar kasus DPR Amerika”

  1. wahh…yang beginian nggak baalan dibaca ama anggota DPR kita yang sangat terhormat itu…mata mereka sudah terlalu picek buat ngebaca…jadi ini hanya sebagai konsumsi rakyat saja jadinya….kasian banget rakyat kita yang miskin dan menderita…walau pemerintah sampe mencret-mencret ngakuin kalo bagsa kita sudah makmur…BullShit!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: