Kekecewaan Yang Sehat

by singalodaya

Lawan kekecewaan bodoh ialah kekecewaan yang sehat yaitu kekecewaan yang Anda rasakan ketika rasa keadilan tidak terpenuhi dan kebenaran dijungkirbalikkan. Kebaikan dibalas kejahatan. Kerja keras hilang percuma. Cinta tulus dibalas dengan penghianatan. Kasih menjadi dosa. Orang malas naik pangkat, orang jujur disingkirkan. Kebaikan dilecehkan, kesucian diolok-olok. Orang kaya diperkaya, orang miskin dipinggirkan. Konglomerat dilindungi, kita semua rakyat dicurangi.

Jika yang begini terjadi maka kekecewaan adalah reaksi yang wajar.Malahan jika Anda tidak kecewa ketika hal-hal di atas terjadi, saya berpendapat hati nurani Anda sudah kumuh.

Kekecewaan seperti ini selain sehat, juga berpotensi mengubah Anda menjadi orang besar. Ada orang bijak berkata, “Kekecewaan diberikan Tuhan pada manusia biasa agar kita menjadi manusia luar biasa.”

Tengoklah misalnya Abraham Lincoln. Hampir seluruh riwayat hidupnya
diisi oleh rangkaian kegagalan dan kekecewaan. Tapi ia selalu bangkit. Tidak penting berapa kali engkau gagal, kata Lincoln, yang penting berapa kali engkau bangkit. Ujung-ujungnya dia berhasil menjadi presiden pada tahun 1861, dan dicatat sebagai presiden Amerika terbesar.

Untuk mengubah rasa kecewa jenis ini menjadi energi yang positif maka
berikut adalah sejumlah saran saya:

1. Ketika Anda terkena rasa kecewa maka carilah penghiburan sejati
agar hati Anda lebih ringan, misalnya musik, jalan-jalan, tidur panjang, atau cuti. Jika hati Anda sudah enteng, terhibur, maka pikiran rasional akan kembali pada Anda, dan perspektif Anda menjadi lebih baik.
2. Hindari pelarian. Pelarian yang umum dari kekecewaan adalah gila kerja (workaholik), obat bius, alkohol, agressi, depressi, balas dendam, makan berlebihan, merokok berlebihan, dan melamun serta bermuram durja.
3. Bicarakan kekecewaan Anda dengan seseorang yang cerdas emosinya,bersikap simpatik dan empatik, bersikap dewasa, dan dapat dipercaya.
4. Ungkapkan kekecewaan Anda dalam bentuk tulisan, misalnya di catatan harian atau sebuah karangan.
5. Ungkapkan kekecewaan Anda kepada Tuhan dalam bentuk doa.
6. Gubahlah kekecewaan Anda menjadi sebuah musik atau syair (jika punya bakat).
7. Cari petunjuk dari seseorang sudah mampu mengatasi kekecewaan serupa.
8. Bacalah kisah orang-orang besar tentang bagaimana cara mereka mengatasi kekecewaan yang dialaminya, misalnya:

a. Mahatma Gandhi yang ditendang dari kabin kereta api kelas satu dan
kemudian berubah menjadi pejuang gerakan tanpa kekerasan (satyagraha) yang mampu mengusir penjajah Inggris dari bumi India.
b. Nelson Mandela yang keluar dari penjara selama 29 tahun tanpa dendam dan sakit hati.
c. Nietzche yang berkata, “Apa yang tidak bisa mematikanku sesungguhnya menguatkan aku”
d. Thomas A. Edison yang pabrik dan laboratorumnya terbakar namun sanggup mengangumi nyala api yang hebat itu, seraya berkata, “Tidak apa-apa semua ini terbakar karena sekarang kita berkesempatan membangun gedung yang lebih modern dan besar.
e. William Soerjadjaya, mantan pemilik Grup Astra yang kehilangan kerajaan bisnisnya tetapi masih tetap tersenyum dan tetap sanggup memulai bisnis baru di usia lanjutnya.
f. Kuntoro Mangkusubroto yang dipecat oleh atasannya Menteri Pertambangan dan Energi di zaman Kabinet Pembangunan VI gara-gara kasus Busang, tetapi yang berpikir positif dan konstruktif, kemudian terpilih menjadi Menteri menggantikan si pemecatnya setahun kemudian.
g. AH Nasution yang disingkirkan oleh Soeharto secara sistematik sejak 1966, mampu bertahan selama 32 sampai usia lanjut, menulis puluhan buku tebal, menjadi mentor moral bagi banyak orang, mencapai status jenderal besar, semakin berkharisma, sanggup berdamai dengan Soeharto, dan masih sempat menyaksikan tragedi kejatuhan Soeharto yang dramatik.
h. Cacuk Sudarijanto yang dipecat sebagai Dirut Telkom, menjadi orang terbuang sekian tahun, tetapi mampu come back ke dunia bisnis, menjadi Dirut Bank Mega, dan menjadi Ketua Alumni ITB periode 1998-2003.

Orang-orang Dekat yang Mengecewakan

Yang paling sering mengecewakan Anda pastilah orang-orang dekat Anda seperti orangtua, anak, isteri/suami, kakak/adik, ipar/saudara.
Terhadap mereka, inginkanlah yang terbaik tetapi pasanglah sikap zero expectation (tuntutan nol). Artinya jika Anda berbuat baik jangan harapkan imbalan, apalagi menuntut balasan agar mereka berbuat setimpal. Jadi berbuat baiklah dengan tulus.

Terimakasih pun jangan harapkan. Sadarilah dunia ini memang bukan dunia yang adil. Ingatlah, para nabi pun selalu dilecehkan bahkan dihujat dan dikejar-kejar. Mereka pun tidak mampu menyenangkan semua orang. Bergembiralah bahwa Anda masih bisa memberi dan sanggup berbuat baik. Itu saja adalah sebuah kehormatan. Untuk menghibur Anda, ketahuilah bahwa Tuhan akan membalas kebaikan Anda berlipat ganda jika penerima kebaikan Anda itu tidak tahu berterimakasih.

Jika orang yang Anda baiki itu tahu berterimakasih dan kemudian membalas perbuatan baik Anda, jangan pula ditolak, tetapi terimalah sebagai bonus, dan karenanya bergembiralah dua kali.

Jika orang yang Anda baiki itu sudah keterlaluan, Anda tak sanggup lagi bersikap baik pada dia, maka jauhi sajalah dia. Putuskan saja hubungan dengan dia tanpa terjebak dalam kebencian dan dendam kesumat. Batasi diri, jaga jarak. Kalau Anda mampu, doakanlah orang brengsek itu. Jika hasil doa Anda tidak layak diterimanya, maka doa Anda akan kembali pada Anda. Jika tidak mampu mendoakannya, jangan pula mengutuknya, siapa tahu kutuk Anda bisa memakan Anda. Serahkan saja agar keadilan Tuhan yang terjadi.

Kemudian, jangan memelihara karakter meminta, menuntut, dan mengemis dari orang lain untuk diri sendiri. Jika Anda harus meminta dan menuntut maka minimal itu demi kepentingan bersama, kalau bisa demi kepentingan dia yang Anda tuntut, tapi jangan pernah untuk diri sendiri.

Sebaliknya suburkanlah karakter memberi, membagi, dan berbagi dengan orang lain. Anggaplah bahwa Anda adalah wakil Tuhan untuk membagi- bagikan rezeki dan berkat-berkat surgawi. Tapi jangan terlalu ekstrim. Jangan sampai susu buat anak sendiri terputus gara-gara terlalu bersemangat membantu anak tetangga. Yang seperti itu bisa-bisa adalah bentuk kesombongan baru yang pada suatu saat akan berbalik mengecewakan Anda.

Saya mau menutup tulisan ini dengan kisah dari bawah laut. Pada suatu
hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. Anakku, kata sang Ibu sambil bercucuran air mata, Tuhan tidak memberikan kita bangsa kerang sebuah tangan pun sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa pedih dan sakit yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat, kata Ibunya dengan sendu namun lembut.

Maka si anak kerang pun melakukan nasihat ibundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Makin lama mutiaranya makin besar. Rasa sakit menjadi terasa wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada seribu ekor kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.Penderitaan membuat seekor kerang biasa menjadi kerang luar biasa.

Kekecewaan dan penderitaan pun dapat mengubah orang biasa menjadi orang luar biasa. Jika Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Ibu Teresa,Mahatma Gandhi, AH Nasution, Cacuk Sudarijanto, dan Kuntoro Mangkusubroto mampu melakukannya, saya yakin, Anda pun mampu melakukannya. Anda sudah selesai membaca sampai di sini, itu tanda bahwa Anda sedang berjalan menuju status manusia luar biasa dan meninggalkan status manusia biasa.

Jadi saya ucapkan selamat menempu jalan susah, itulah jalan menuju
keagungan, jalan menuju kemuliaan, the road less traveled, kata M. Scott Peck. Dan itulah jalan menuju kebahagiaan sejati.

Sumber: Penderitaan, Kekecewaan, dan Rasa Sakit oleh Jansen H. Sinamo (Jansen Sinamo WorkEthos Training Center)

Pelajaran berharga bagi para Orang Tua,calon orangtua dan mereka yang akan mempunyai anak balita.

One Comment to “Kekecewaan Yang Sehat”

  1. suhanallah,,,,,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: