Mencopot Sikap Wira’i, Mengenakan Nafsu Syetan

by singalodaya

Yang namanya ulama menurut pengertian yang berdekatan dengan ayat Al-Qur’an mestinya berkepribadian yang khosy-yatullah, benar-benar takut kepada Allah, melebihi orang-orang yang bukan ulama. Di masyarakat, yang disebut Kiyai itu identik atau bahkan sama dengan ulama. Maka seharusnya, mereka adalah orang-orang yang khasy-yatullah, benar-benar takut kepada Allah. Tentunya, untuk menjadi orang yang tingkatannya khasy-yatullah itu punya akhlaq yang mulia. Hal-hal yang mubah (boleh) dilakukan pun perlu ditimbang manfaat dan mudharatnya, bahkan apabila kurang bermanfaat, walaupun tidak bermudharat masih harus dipertimbangkan. Sedangkan hal yang meragukan (syubhat) maka mesti dijauhi, apalagi yang haram. Sikap seperti itu dinamakan sikap wara’ atau wira’i. Apabila ulama telah melepas “baju” wira’i-nya maka berarti ilmu agamanya telah dia tinggalkan, tidak diamalkan lagi. Yang tadinya merendahkan pandangan matanya ketika ada perempuan lewat, berganti menjadi berani memandang lebih dari satu klebatan, (sekali pandang). Baru di tingkat itu saja sebenarnya sudah melepas baju wira’i, karena dia telah melakukan zina mata. Bisa dibayangkan, baju wira’i itu telah diganti baju apa, kalau misalnya ada berita santer bahwa Kiyai Fulan beredar fotonya memangku isteri orang. Kata Nabi saw, “Syetan perempuan dan syetan laki-laki”, ketika beliau berkomentar tentang perempuan yang dikintil oleh lelaki, yaitu lelaki mengikuti perempuan, dan di sana belum ada keterangan sampai memangku segala. Jadi Sang Kiyai, dengan perbuatannya seperti itu telah mengganti baju wira’i-nya dengan baju syetan.

Dalam hal berkata-kata, bertingkah laku dan bersikap, setiap akhlaq mahmudah/ mulia yang dilepas kemudian diganti dengan akhlaq madzmumah/ tercela bisa diibaratkan baju wira’i diganti dengan baju syetan. Dalam kasus ini kita lihat peristiwa-peristiwa yang menyangkut sebagian kiyai terutama di kalangan NU ataupun Islam Tradisi.

Dalam suatu wawancara, Kiyai PKB (Partai Kebangkitan Bangsa/ NU) pimpinan Pondok Pesantren Buntet Cirebon, KH Abdullah Abbas, mengatakan,  “…Kita tahu yang mencalonkan  Gus Dur itu kan Amien (Rais) sendiri. Kenapa sekarang dia malah menggugat? Ini kan namanya pelecehan. Saya kira Amien Rais itu orang sinting.” Lanjutan dalam wawancara itu di antaranya: “ Dia (Amien Rais) itu sulit dipercaya. Niatnya  tidak di atas kebenaran. Artinya kualitas ke-Islamannya tidak ada. Makanya kita tidak khawatir.”

Sementara itu Kiyai PKB-NU lainnya, KH Cholil Bisri Rembang berkata: “Saya  sendiri punya 2000 santri, ya kalau untuk menghabisi orangnya Amien Rais di Rembang dan Jawa Tengah, cukup lima menit.”   Selain jumlah pesantren, KH Cholil juga mengingatkan bahwa NU memiliki perguruan silat  Pagar Nusa, ada Ansor ditambah PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang memiliki Garda Bangsa. “Mereka itu orang-orang yang militan semua dan relatif jadugAksi, No. 295, 2-8 November 2000). (sakti).” (Tabloid

Pernyataan dua kiai itu berkaitan dengan ungkapan Amien Rais ketua MPR yang menginginkan agar Gus Dur turun dari kedudukannya sebagai presiden. Karena, menurut Amien, seluruh  indikasi (kepemimpinan Gus Dur) menuju negatifisme. Di samping gagal memberantas KKN, Gus Dur masih belum berhasil mengatasi pengangguran, memerosotkan nilai rupiah terhadap dolar 1500 poin dibanding zaman Habibie. Nampaknya kalau Gus Dur terus, Republik akan kedodoran karena dua propinsi bisa lepas. Kata Amien: “Saya sudah punya komitmen, sayalah yang sekarang dihujat masyarakat sebagai orang yang paling bertanggung jawab mempresidenkan Gus Dur dengan Poros Tengah kami. Sekarang saya ingin menebus dosa dan kesalahan saya itu. Saya minta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas pilihan yang keliru, kita manusia bisa saja keliru. Sekarang Gus Dur tidak bisa bertahan lebih lama lagi, demi kelanjutan bangsa dan negara ini di masa datang.”  (Majalah Sabili, 15 November 2000/ 18 Sya’ban 1421, hal 95).

Di balik penyesalan atas kekeliruannya itu Amien Rais dimaki-maki oleh pendukung Gus Dur, sampai kiai-kiai NU/ PKB dan muqollid Gus Dur melontarkan kata-kata seperti tersebut di atas. Lantas, apakah lontaran kiai-kiai NU/ PKB itu bisa ditiru? Untuk meniru perbuatan, sudah ada ketegasan dari Allah SWT bahwa Rasulullah SAW lah uswah hasanah (contoh baik) yang harus ditiru. Bukan kiai atau siapa-siapa. Sedangkan Rasulullah Saw bersabda:

أربع من كن فيه كان منافقا خالصا ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا عاهد غدر، وإذا خصم فجر.

“Arba’un man kunna fiihi kaana munafiqon khoolishon, wa man kaanat fiihi khoshlatun minhunna kaanat fiihi khoshlatun minan nifaaqi hattaa yada’ahaa: Idzaa haddatsa kadzaba, wa idzaa wa’ada akhlafa, wa idzaa ‘aahada ghodaro, wa idzaa khoshoma fajaro.”

“Orang yang dirinya ada empat perkara maka dia itu (sangat menyerupai) munafiq tulen.Dan barangsiapa ada pada dirinya satu perkara dari yang empat itu maka ada dalam dirinya satu perkara dari kemunafikan, sehingga (baru hilang kalau) ia meninggalkannya. (Yaitu): Apabila ia bercerita (tentang hal yang telah terjadi) maka dia berbohong, apabila ia berjanji (untuk memenuhi janji Allah) maka ia menyelisihi, apabila ia berjanji/ sepakat maka ia khianat, dan apabila ia bertengkar maka ia (berargumentasi dengan) dusta/ menyimpang dari kebenaran.” (Hadits Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, berderajat Shahih).

Munafiq yang sejati adalah lahirnya menampakkan diri sebagai beriman sedang hatinya kafir. Empat perkara itu adalah perbuatan munafiq, jadi munafiq af’ali (secara perbuatan). Maka siapa yang melakukan 4 perbuatan munafiq itu dia mirip sekali dengan munafiq sejati.

Sedang dari sisi mengandalkan kekebalan yang disebut jadug, maka tingkah mengisi diri dengan ilmu kebal/ jadug itu berlawanan dengan ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW tidak mengajarkan ilmu kebal, bahkan beliau pun terluka ketika berperang melawan kafirin. Para sahabat Nabi SAW pun justru menginginkan mati syahid, tidak pakai ilmu kebal sama sekali.

Ilmu jadug itu mungkin dengan minta bantuan jin, mungkin dengan sihir, mungkin juga dengan jimat. Semua itu dilarang keras dalam Islam.

Larangan minta bantuan kepada jin:

وأنه كان رجال

رهقا.

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS Al-Jin/ 72:6).

Larangan bersihir:

من عقد عقدة  ثم نفث فيها فقد سحر، ومن سحر فقد أشرك، ومن تعلق شيئا وكل إليه. (رواه النسائ عن أبي هريرة).

Man ‘aqoda ‘uqdatan tsumma nafatsa fiihaa faqod saharo, waman saharo faqod asyroka, waman ta’allaqo syai’an wukila ilaihi.”

“Barangsiapa membuat suatu buhulan/ ikatan lalu meniup padanya (sebagaimana yang dilakukan tukang sihir), maka dia telah melakukan sihir. Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka dia telah berbuat syirik; sedang barangsiapa menggantungkan diri pada suatu benda (jimat) maka dirinya dijadikan bersandar kepada benda itu.” (HR An-Nasa’i dari Abu Hurairah).

من علق تميمة فقد أشرك. (رواه أحمد).

Larangan pakai jimat: “Man ta’allaqo tamiimatan faqod asyroka.”

“Barangsiapa menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat syirik.” HR Ahmad).

Demikianlah. Mudah-mudahan mereka mau bertobat, dan mencabut serta menyesali ucapan yang jadi contoh buruk. Sedang kalau masalahnya bersalah kepada sesama manusia maka minta maaf kepada yang bersangkutan. Dan para jadug itu hendaknya membuang ilmu jadugnya serta bertobat, hingga menemui Allah SWT tidak dalam keadaan musyrik.

Kecaman keras dan ancaman dengan menakut-nakuti yang dilancarkan Kiyai-Kiyai PKB-NU itu terjadi bulan November 2000M. Ternyata 3 bulan berikutnya, Februari 2001M terjadi betul perusakan massal yang diduga keras dilakukan oleh warga Nahdliyin/ NU di Jawa Timur. Sebagaimana dituturkan di berbagai tempat di sini, perusakan itu justru terhadap masjid, panti asuhan Musl, madrasah, sekolah dan perkantoran milik Muhammadiyah dan Al-Irsyad. Selain itu pembakaran dan perusakan kantor-kantor Golkar, dan penebangan ratusan pohon pinggir jalan, dihalangkan ke sepanjang jalan Raya. Sebelumnya tahun 2000 sudah diadakan perusakan-perusakan terhadap kantor-kantor HMI di beberapa tempat oleh pendukung Gus Dur tentunya dari NU.

Kejadian yang di dalam Islam termasuk tingkah perusakan yang sangat dilarang, sedang pelakunya disebut fasiq itu sangat disayangkan sekali, karena justru terjadinya itu akibat dari suara-suara yang dilontarkan oleh para kiyai NU, di antaranya seperti tersebut di atas.

dikutip darkumpulan buku hartono ahmad jaiz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: