ASAL-USUL

Rame ing gawe Sepi ing pamrih

Bersyukur dan Bahagia

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?”

Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian. Read the rest of this entry »

Filed under: Renungan,

Dedaunan yang Berguguran

Dedaunan yang Berguguran

Barangkali kematian yang paling sulit kita terima adalah kematian dari seorang anak. Pada beberapa kesempatan saya pernah diberi kehormatan untuk memimpin upacara pemakaman bagi seorang anak laki-laki atau perempuan, seseorang yang belum lama mengecap pahit manisnya kehidupan. Tugas saya adalah membantu menuntun orang tua yang sedang putus asa, dan juga anggota keluarga yang lainnya, mengatasi siksaan rasa bersalah dan tuntutan obsesif atas jawaban dari pertanyaan, “Mengapa?”

Saya sering menceritakan kisah perumpamaan berikut ini, yang dikisahkan kepada saya beberapa tahun silam di Thailand.

Seorang bhikkhu hutan yang sederhana tengah bermeditasi sendirian di sebuah pondok jerami di tengah hutan. Pada suatu larut malam, terjadilah badai musim hujan yang garang. Angin menderu-deru bagaikan suara mesin jet dan hujan yang deras menerpa pondoknya. Semakin malam beranjak pekat, badai makin bertambah liar. Mula-mula, dahan-dahan pohon terdengar tercerabut dari batangnya. Lalu seluruh bagian pohon terengut oleh angin ribut dan dihempaskan ke tanah dengan suara sekeras guntur.

Sang bhikkhu segera sadar bahwa pondok jeraminya tak akan sanggup melindunginya. Jika sebuah pohon tumbang menimpa pondoknya, atau meskipun cuma sebuah dahan besar, pondoknya akan rata dengan tanah dan meremukkannya sampai mati. Dia tidak tidur sepanjang malam. Seringkali sepanjang malam itu, dia seolah-olah mendengar para raksasa hutan mendobrak ke permukaan tanah dan hatinya berdegup untuk sesaat. Read the rest of this entry »

Filed under: Renungan

Tempat Layak untuk Bertemu Sang Pencipta

Seorang warga negara asing yang baru bertugas di Indonesia sempat terheran-heran setiap dia parkir di basement kantornya dia melihat sebuah ruangan yang didalamnya ada orang sedang beridiri, ada yang duduk, ada yang sedang berbaris. Hal yang sama dia temukan di tempat parkir dibanyak mal-mal di Jakarta. Karena penasaran dia bertanya dengan temannya yang telah lama bertugas di Indonesia. Dia sangat kaget waktu diberitahu bahwa ruangan itu adalah tempat ibadah (musholla) dan orang didalamnya sedang sholat. Dan lebih terkejut waktu dia tahu tidak ada tempat sholat di kantornya selain di basement tadi. Dan ketika rapat dikantornya dia menyinggung masalah ini. Dan dia berkata. Bagaimana anda bisa bekerja dengan baik untuk bertemu dengan klien kita, jika untuk bertemu dengan Tuhan saja anda tidak pernah memikirkan tempat yang layak?

Bukankah seharusnya tempat ibadah menjadi prioritas kita di kantor ini? Mulai saat ini ruangan tempat kita rapat akan kita jadikan tempat anda untuk bertemu dengan Tuhan anda!

Ironis memang, kita yang mengaku negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tidak pernah memikirkan tempat sholat di kantor kita, kita akan protes keras kalau ruangan kita kecil, sempit dan kotor tapi kita tidak pernah protes jika untuk sholat kita harus berada diruangan yang alakadarnya sekedar tempat disudut-sudut kantor yang sedikit kosong dan untuk berjamaah, sujud dan rukuk saja susah . Bukti nyata yang lain adalah hampir seluruh mushola di kantor pemerintah, swasta,mal,terminal hanyalah tempat yang keberadaannya dipikirkan belakangan. Bahkan banyak kantor yang tidak memiliki tempat sholat dengan alasan tidak ada tempat lagi namun gudang-gudang , tangga, pantry dan (maaf) toilet selalu mejadi prioritas utama.

Jika anda berkesempatan jalan-jalan di mal,terminal atau tempat umum lainnya cobalah cari musholla , 99,999 % kalau anda temukan pasti ada dibasement, dekat toilet umum dan diruangan yang untuk mencarinya butuh perjuangan!

Lalu dengan enaknya dan cueknya kalau kita berdoa agar rejeki yang kita dapat agar barokah dan bermanfaat ? padahal kita tidak pernah memikirkan tempat dimana barokah dan manfaat itu akan dicurahkan oleh Allah ?

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Filed under: Renungan, ,

Tidak ada Kata “Mati”

Saat jenazah Ibu Suri Yuliana,ibunda Ratu Beatrix dari Negeri Belanda, diantar oleh ribuan orang ke tempat pemakamannya, tetapi yg diantar sebenarnya hanya tubuhnya saja yg sudah mebujur kaku, sedangkan jiwanya harus pulang sendirian. Kita dtg kedunia ini sendirian, begitu juga pulangnya harus sendirian pula.

Pada saat konglomerat William Randolph Hearst raja koran di USA masih hidup,orang2 disekitarnya dilarang membicarkan hal2 yg berkaitan dgn kematian walaupun pada saat itu usianya telah mencapai 75 th, karena ia tidak mau diingatkan, bahwa tidak lama lagi kematian akan dtg menjemput dia.

Apakah Anda tahu bahwa perkataan “mati” – “death” bagi banyak orang merupakan satu perkataan yg tabu atau sebaiknya tidak usah diucapkan. Oleh sebab itulah para salesman asuransi jiwa di USA maupun di Eropa, dilarang menggunakan perkataan “death”, sebagai gantinya mereka menggunakan umpamanya perkataan expired, departed, gone his eternal rest.

Kebalikannya dari Raja Philip dari Macedonia yg telah mampu menguasai seluruh negara Yunani dan juga ayah dari Alexander Agung. Ia mempunyai kebiasaan yg aneh dan muram, dimana ia memerintahkan budaknya tiap hari,untuk membangunkan dia dari tidurnya dgn perkataan: “Ingat Philip bahwa engkau harus mati!”, mungkin bagi kita kelihatan-nya janggal dan aneh,tetapi menurut pendapat saya ini adalah satu cara yg baik untuk mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini hanya sekedar numpang lewat azah.

Dan lucunya, kita mengeluh tiap hari betapa susahnya penderitaan hidup kita ini, tetapi dilain pihak kalho disuru balik lebih cepat pulang kampuang baca Sorga – kita nolak, se-akan2 kita lebih senang tetap hidup menderita di dunia ini daripada disuru mati dan senang di surga. Oleh sebab itulah manusia berusia terus untuk memperpanjang masa hidupnya dgn berbagai macam cara, walaupun sebenarnya mereka sadar bahwa usaha mereka itu hanya usaha yg sia2 saja, sebab apabila waktunya sdh tiba, boro2 satu hari, satu detik pun sudah tidak bisa ditawar ato diperpanjang lagi.

Agar dangangannya laris, maka agen asuransi jiwa harus mampu meyakinkan clientnya, bahwa setiap manusia itu pasti mati, kebalikannya dengan para ahli agama, mereka harus mampu meyakinkan setiap orang bahwa hidup manusia itu kekal adanya.

Disamping itu buat apa mikirin tentang kematian, sebab ini hanya nambah beban otak azah, mikirin hidup sehari-hari azah udah berat dan susah. Dan anehnya, banyak informasi kematian yang diterima baik melalui TV, majalah,maupun koran, sering tidak menggetarkan hati. Bahkan bernilai seperti hiburan? Berita perihal kematian “yang mengerikan sekalipun” tidak ubahnya dengan berita-berita yang lain seputar kasus politik dan kriminalitas.

Tetapi dunia baru mulai kaget dan heran apabila ada orang yg tak diduga bisa mati, seperti halnya Lady Diana. Se-akan2 kita tidak percaya dan tidak bisa menerima bahwa maut bisa juga menjamah manusia yg begitu hebat dan cantiknya. Kita meratap dan berpikir, kenapa orang yg begitu muda dan beken kok bisa mati? Ketika peristiwa itu baru terjadi hampir seluruh masyarakat dunia turut terbelalak, menangis, histeris. Seolah tidak yakin kalau hukum kepastian ini juga berlaku untuk seorang manusia bernama Diana.

Dan kalau direnungkan lolongan itu justru aneh, karena Anda lupa bahwa di balik itu masih ada jadwal panggilan untuk Anda juga, kloter giliran Anda sudah ada di depan mata, giliran dan antrean untuk maju kedepan semakin hari semakin dekat. Tinggal nunggu waktunya azah untuk dipanggil boarding naik ke pesawat return to heaven or to hell!

Ketika kami membangun rumah, arsitek saya disini menjelaskan bahwa salah satu peraturan dari arsitek disini bahwa setiap pintu tempat tidur harus cukup besar untuk bisa dimasuki peti jenasah.

INGAT! akan tiba saatnya dimana Anda dan saya juga harus mati – mungkin beberapa hari, minggu,atau tahun lagi, entah kapan! Tetapi anehnya walaupun kita tahu, bahwa kita harus mati, kita merasa tidak senang untuk membicarakan maupun mendiskusikan soal kematian, apalagi merencanakannya, se-akan2 perkataan mati itu tidak ada di dlm kamus hidup ini.

Kita baru merenungkan tentang kematian apabila kita melayat orang mati,kita melihat mayat yg terbaring, disitulah baru kita sadar pada suatu saat kita juga akan berada di posisi yg sama. Oleh sebab itulah kita sering menangis apabila melihat orang mati, bukannya menangisi bagi yg sudah wafat, karena ia kagak bakalan bisa melihat atapun mendengar lagi, melainkan menangisi diri sendiri karena sedih ditinggal seorang diri dan juga sedih, karena sadar bahwa tidak lama lagi kita akan mengalami nasib dan hal yg sama ialah maut akan menjemput you, me and all of us!

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Filed under: Renungan, ,

Kasih Sayang Ibu

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya.

Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu. Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya.

Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai babu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.

Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya. Read the rest of this entry »

Filed under: Renungan,

Jika Waktu Itu Tiba…

Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba dirumah langsung duduk bersantai sambil melepas penat. Sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan langsung sholat. Sementara anak2 & istri sedang berkumpul diruang tengah. Dalam kelelahan tadi, saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat dimuka saya. Selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri didepanku. Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba2 itu. Sebelum sempat bertanya…..siapa dia…tiba2 saya merasa dada saya sesak… sulit untuk bernafas…. namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara..sebisanya……

Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari dadaku……terus berjalan……kekerongkonganku….
sakittttttttt……..sakit……..rasanya. Keluar airmataku menahan rasa sakitnya,…. oh tuhan ada apa dengan diriku….. dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi , benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku… kkhh………khhhh….. kerongkonganku berbunyi. Seolah tak mampu menahan benda tadi… badanku gemetar… peluh keringat mengucur deras….mataku terbelalak….. air mataku seolah tak berhenti….tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan aku.

Aku melihat benda tadi dibawa oleh orang misterius itu…pergi…berlalu begitu saja….hilang dari pandangan. Namun setelah itu………aku merasa aku jauh lebih ringan, sehat, segar, cerah… tidak seperti biasanya. Aku herann… istri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah,,,,tiba2 terkejut berhamburan kearahku.. Disitu aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat dibawah sofa yang kududuki tadi . badannya dingin kulitnya membiru. Siapa dia????????…….. mengapa anak2 & istriku memeluknya sambil menangis… mereka menjerit…histeris …terlebih istriku seolah tak mau melepaskan orang yang terbujur tadi… siapa dia………….???????? Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan….. dia……..dia…….dia mirip dengan aku….ada apa ini Tuhan…???????? Aku mencoba menarik tangan istriku tapi tak mampu….. Aku mencoba merangkul anak2 ku tapi tak bisa …Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku. Aku coba jelaskan kalau aku ada disini.. Aku mulai berteriak…..tapi mereka seolah tak mendengarkan aku………seolah mereka tak melihatku… Read the rest of this entry »

Filed under: Renungan,

Haruskah Harta Menjadi Dewa?

Berbondong-bondong orang mengikuti pertemuan-pertemuan yang membahas bagaimana tips dan trick menjadi kaya. Dua hari yang lalu pun, teman lama saya mengajak bertemu di sebuah tempat untuk sekedar makan malam bersama. “Apa Kabar Yan, bagaimana pekerjaan mu?” dan berulang kali seperti tanpa malu-malu lagi Ia mengajak saya berbicara bagaimana menjadi kaya.

Beberapa saat pertama saya masih belum mengerti tentang maksud “lemparan-lemparan” kalimat pembuka yang diberikannya. Namun setelah makan usai, ternyata Ia hanya ingin mempresentasikan kepada saya mengenai sebuah usaha Multi Level Marketing yang sudah Ia ikuti, dan telah membuahkan ribuan US $ mengalir ke rekeningnya.

Dengan berapi-api Ia melontarkan maksud-maksud yang mungkin Ia tujukan untuk membuat saya menjadi terpengaruh, satu hal dan tak lebih yaitu tentang kekayaan fisik belaka.

Dalam hati saya tertawa, mengapa hampir semua orang yang sangat piawai berbicara dan beretorika yang saya temui dimuka bumi ini cuma dan tak lebih berfikir mengenai kekayaan material yang duniawi banget itu.

Rata-rata mereka merekomendasikan saya untuk membaca sebuah buku berjudul “Rich Dad Poor Dad” dan atau “Cashflow Quadrant”, jujur saja saya memang sedang membaca buku-buku tersebut dirumah, belum selesai memang, namun yang saya fikirkan apapun argumentasi mengenai “kaya” didalam buku tersebut hendaknya kita juga mampu untuk mem-filter-nya tanpa harus kita telan mentah-mentah seluruh pesan-pesan didalamnya. Read the rest of this entry »

Filed under: Renungan,

Tulis alamat email anda untuk menerima postingan baru dari blog ini

Join 6 other followers

Arsip

Blog Stats

  • 50,314 hits

Blog reviews

Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com

RSS tips and tricks

tanggapan

Irfan Nursalim on asal-usul Pattimura
Joel Luiz Haliwela on asal-usul Pattimura
eko on Nama-nama raja Tanah Jawa
amirah tsara on Asal-usul Majapahit
nana sugriana on Asal-usul Majapahit
Yazli bin Yis on Nama-nama raja Tanah Jawa
gersang padang sapan… on Sejarah Candi-Candi Di In…
Amak Alaudin on CAROK
amaksantrisalaf on CAROK
ki bagus sawung kism… on JODOH LEWAT MIMPI

singalodaya


sucining jiwo kanti lelaku makaryo nerimo dening Gusti murbeng dumadi

Alexa Traffic

Review http://www.singalodaya.wordpress.com on alexa.com

Hosting Unlimited Untuk Anda

RSS Artikel Desain dan dekorasi Rumah

  • Integral Group Oakland, CA Office Earns Platinum LEED(R)
    San Francisco, CA (PRWEB) May 22, 2012 Today, during a plaque ceremony in Oakland, CA, Integral Group, Founder & CEO, Kevin Hydes and Managing Director, Peter Rumsey, alongside BuildingWise Founder, Barry Giles announced their achievement of earning the worlds highest-ever U.S. Green Building Councils (USGBC) Leadership in Energy and Environmental Design […]
  • Home Improvement Loan – Renovate Home at Low Cost Finance
    You bought or build a home long time back and now it regularly requires improvements like repairing some damages. Home improvement is not limited to repairing works but instead adding a story to the home, enlarging space, building more rooms; modernizing kitchen etc works are also included. So the expenses towards making home a more [...]
  • Academy of Art University Students Complete Design for NASA
    San Francisco, California (PRWEB) May 22, 2012 This semester, Academy of Art University Industrial Design students collaborated with NASA’s Ames Research Center, Moffett Field, Calif., to design a user interface to enable future astronauts to remotely operate a robot on the moon. The project was so successful that three of the students will continue wo […]

RSS Artikel bisnis dan marketing

Bikin blog dapet duit

Text Link Ads

RSS EastJava’s Blog

  • The Connection Between Blogs and Dating
    What do online dating and blogging have to do with each other? At first blush it may not seem like much, but dating blogs are becoming an increasingly popular feature on online dating websites. Blogs, or online journals, can be … Continue reading →
  • The Benefits of Free Online Dating for Single Parents
    Getting involved in the dating world can be a challenge for some single parents. To begin with, the hectic schedule and responsibilities of having children restrict many parents’ abilities and desire to go out and meet new people. The financial … Continue reading →
  • The Changing Face of Online Dating
    When online dating first began to enter into the social consciousness, it became known as a last ditch effort for lonely unfortunates, who had no other way to meet people. Comedy skits like the “Lowered Expectations” routine by MAD TV … Continue reading →

RSS inframundos healthy

pengunjung

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.